Selasa, 05 Juni 2012

~* Berbondong-bondong Menjadi Mualaf *~


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


a“Idza ja-a nashrullahi wal fathu,

wara aytannas sayad khuluna fi dinillahi afwaja..”
(An-Nashr: 1-2)
 
(Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah
dengan berbondong-bondong…”.
 
a


Aisha Uddin tampak sedang melafalkan surah Alfatihah bersama teman dekatnya, Sameeah Karim, di rumahnya. Ayat suci itu diucapkannya dengan lancar meski sesekali terdengar kesalahan eja dari mulut wanita berusia 22 tahun itu.

Tak seperti Sameeah (35 tahun) yang berdarah Pakistan dan dibesarkan dengan lantunan Alquran, Aisha berbeda sama sekali. Aisha yang bernama asli Laura adalah seorang mualaf sejak dua tahun lalu.
Seperti warga asli Inggris kebanyakan, kulitnya berwarna putih pucat dengan bola mata biru terang. Aisha atau Laura berasal dari Birmingham. Sampai sekarang, ia masih berpakaian seperti wanita muda Inggris lainnya.
Mengenakan jins, jaket bertudung, dan ber-make up tebal. Namun, Aisha kini melengkapinya dengan mengenakan jilbab untuk menutupi rambutnya. “Bagi saya, sekarang, jelas ini merupakan perubahan dramatis. Namun, ini perubahan yang membuat saya bahagia karena saya tak perlu lagi membuktikan diri sendiri kepada siapa pun di luar sana,” tuturnya, seperti ditulis BBC.




Aisha mulai tertarik Islam saat bersekolah. Dia lantas diam-diam mengunjungi masjid di kotanya untuk mempelajari Islam lebih dalam. “Islam menarik perhatian saya dan saya ingin melihatnya lebih jauh ke dalam orang-orang dan budayanya. Dan, saya terus belajar dan belajar bahkan setelah sekolah usai,” ujarnya.

Bertahun-tahun Aisha mencari tahu lebih banyak mengenai Islam sebelum benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat, mengubah penampilan, dan menunaikan shalat lima waktu. “Hidupku berubah drastis. Saya dulu seorang pemberontak, bermasalah di rumah, sering pergi dan tinggal di luar rumah, serta malas belajar di sekolah,” katanya.
“Setelah menjadi Muslim, saya menjadi lebih tenang. Saya lebih suka tinggal di rumah untuk membaca buku atau berinternet. Saya menjadi orang yang lebih bahagia. Saya bangga dengan diri sendiri, saya kini mempunyai identitas baru,” tegasnya.





Aisha merupakan salah satu gambaran warga kulit putih Inggris yang memilih untuk menjadi mualaf sebagaimana ditunjukkan dari hasil penelitian yang dilakukan sebuah lembaga nirlaba di Swansea University, Faith Matters. Lembaga ini bekerja sama dengan masjid-masjid di sana untuk mengurangi sikap ekstrem dan memperbaiki hubungan antarumat beragama.

Dalam penelitian berjudul “A Minority Within A Minority: A Report on Converts to Islam in the United Kingdom”, lembaga ini menggunakan sejumlah sumber, termasuk survei di 250 masjid di Inggris, data sensus sejak 2001, dan angka konversi agama di Eropa. Hasilnya sungguh mengejutkan. Para peneliti memperkirakan kini terdapat sebanyak 100 ribu warga Inggris dari berbagai latar belakang etnis yang mengonversi agamanya ke Islam.
Angka itu memperlihatkan peningkatan tajam dibandingkan jumlah warga yang menjadi mualaf sebanyak 60 ribu orang pada 2001. Untuk melihat lebih dalam pengalaman para mualaf itu, para peneliti mewawancarai 120 orang dari mereka, terutama dari kalangan pemuda dan perempuan kulit putih Inggris.




Tahun lalu saja, Faith Matters menemukan sebanyak 5.200 warga Inggris menjadi mualaf. Berdasarkan hasil survei, 56 persen mualaf itu merupakan warga kulit putih Inggris. Uniknya, dari warga asli Inggris ini ternyata 62 persen di antaranya adalah perempuan. Para mualaf itu rata-rata berasal dari kalangan muda dengan usia 27 tahun.

Di Masjid Regent’s Park, di pusat Kota London, sekarang banyak dijumpai wajah asli orang Inggris di antara jamaah shalat Jumat. Konversi terjadi di masjid ini hampir setiap pekan, terutama pada hari Sabtu. Salah satu dari mereka adalah adik ipar mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, Lauren Booth, yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan biasa melakukan shalat di sana.
Salah seorang imam masjid di London, Ajmal Masroor, tak terlalu terkejut mendengarkan kabar itu. Berdasarkan pengalamannya, sekitar tiga perempat dari mualaf itu memang berasal dari kalangan perempuan. “Banyak orang yang mencari kedamaian spiritual daripada kehidupan hedonistik yang disetir kebutuhan materi yang ada di sekitar kita,” ujar Masroor.




“Mereka menemukan jawabannya dalam Islam. Wanita lebih mudah merenung, berpikir, dan mengambil hal-hal yang lebih serius, bahkan dari usia muda,” tambahnya. Kondisi ini, ujar Masroor, telah berlangsung selama 20 tahun terakhir dan terlebih lagi sejak peristiwa 9/11 di New York, Amerika Serikat.

Orang-orang dibuat penasaran mengenai Islam. Mereka kemudian mencari tahu dengan membaca buku daripada melihat berita-berita di media massa yang sudah terdistorsi. “Mereka mempelajari bahwa Islam ternyata mampu memenuhi perjalanan pribadi serta kesadaran kolektif.”
Selama ini, media massa di Inggris selalu mengidentikkan para mualaf ini dengan terorisme atau fundamentalis. Faith Matters memdapatkan 62 persen berita koran di sana mengaitkan mereka dengan terorisme dan 14 persen lagi dengan Islam fundamentalis atau ekstrem.
Namun, penelitian yang dibuat Faith Matters memperlihatkan gambaran yang jauh berbeda dengan citra mualaf sebagai teroris atau fundamentalis itu. Direktur Faith Matters Fiyaz Mughal menyatakan, para mualaf Inggris ini bukanlah musuh dalam selimut. Mereka justru bisa berperan dalam memperkuat hubungan antarkomunitas di Inggris.




Mughal mengatakan, para mualaf ini dapat memperlihatkan hakikat ajaran Islam tanpa terbebani oleh muatan budaya Timur Tengah atau Asia Selatan, seperti yang sering mewarnai kehidupan orang-orang Inggris keturunan imigran yang lahir sebagai Muslim. Ini disebabkan mereka merasa mempunyai identitas ganda sebagai orang Inggris asli sekaligus sebagai Muslim.

Dalam survei itu para responden mengatakan, mereka bisa menjadi jembatan antara kedua komunitas karena mereka memahami sudut pandang kedua pihak. Selain itu, para mualaf Inggris ini tidak terbelenggu oleh praktik budaya yang di Inggris secara salah kaprah disebut sebagai ajaran Islam, seperti sunat wanita, kawin paksa, dan penindasan perempuan.




Hasil penelitian ini bahkan ditulis oleh seorang mualaf Inggris bernama Muhammad Arifin Kevin Brice yang menikah dengan seorang wanita Muslim. Faith Matters melaporkan, para mualaf Inggris ini juga kerap menghadapi kesulitan seperti ditentang oleh keluarganya ketika memberitahukan keislamannya.

Seperti Aisha, dia langsung dimusuhi oleh keluarganya yang tak mau melihat kenyataan dirinya. “Keluarga saya tidak terlalu senang melihat kenyataan ini. (Mereka bertanya) mengapa mengubah identitasmu? Mengapa kamu menutupi rambut? Mengapa kamu berpakaian seperti ini?” ungkap Aisha.
Namun, Aisha yang belum lama ini menikah dengan seorang pria keturunan Bangladesh tak terlalu merisaukan penolakan keluarganya. Dia kukuh memegang agama barunya ini. “Saya bangga menjadi Muslim, saya tak peduli dengan apa yang keluarga saya katakan.”

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 (Republika online, 07 Januari 2011, bbc ed: budi raharjo)