Rabu, 27 Juni 2012

~* BAHAYA: Humanisme, Pluralisme, Demokrasi !!! *~







Saudaraku, perjuangan rasanya tidak mengenal kata akhir, setiap waktu setiap masa, kita terus berhadapan dengan berbagai masalah. Ummat ini harus dipedulikan, dijaga, dihargai, diperjuangkan hak-haknya, dengan sekuat kemampuan yang kita miliki. Belum juga tuntas masalah Bank Century, kita sudah menghadapi masalah baru, “Gerakan Pemujaan Abdurrahman Wahid”. Kalau Bank Century berkaitan dengan harta benda, maka dalam masalah Gus Dur ini masalah AKIDAH. Ingat akidah, ini masalah terbesar Ummat ini!!!

Banyak orang mengelu-elukan Gus Dur sebagai tokoh: HUMANISME, PLURALISME, dan DEMOKRASI. Media-media massa sangat giat mencuci otak masyarakat dengan pujian-pujian berlebihan dalam 3 persoalan itu. Sampai 9 Fraksi DPR, termasuk partai-partai Islam, menyokong usulan agar Gus Dur diangkat menjadi pahlawan nasional.

Ini sangat bahaya, sangat berbahaya. Kalau sampai Pemerintah mengabulkan tuntutan anggota DPR itu, alamat bangsa kita akan diadzab oleh Allah dengan bencana-bencana memilukan di masa ke depan. Mengapa? Untuk tokoh yang penuh permusuhan kepada Islam, menghina Al Qur’an, pembela JIL, pro Israel, dll. itu ingin ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”. Sedangkan almarhum Buya Natsir, mantan Ketua DDII, yang jelas-jelas jasa-jasanya diakui Dunia Islam, sampai beliau mendapatkan Faishal Award dari Kerajaan Saudi, sampai wafatnya tidak pernah diakui sebagai pahlawan nasional. Baru beberapa waktu lalu, status kepahlawanan beliau diakui.

Begitu pula, almarhum Syafruddin Prawiranegara yang menjadi Gubernur BI pertama, pernah menyelamatkan Indonesia dengan menjadi Presiden Pemerintahan RI Darurat (PDRI), beliau sampai saat ini belum juga diakui sebagai pahlawan nasional. Jasa beliau besar, tapi tidak diakui oleh negara ini.

Saya yakin, jika Gus Dur sukses diangkat sebagai pahlawan nasional, itu artinya: Kita telah mengangkat manusia yang dimurkai Allah sebagai tokoh pujaan, idola nasional. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini sama saja dengan menghalalkan kehancuran, bencana, dan segala siksaan atas bangsa ini.

Ya, kalau Anda tidak percaya, lalukan saja apa yang Anda inginkan! Mari kita lihat akibatnya nanti! Saya hanya mengingatkan, sebagaimana waktu mengingatkan agar masyarakat jangan memilih SBY-Boed. Kalau kelak Anda hidup menderita, maka jangan salahkan, selain diri sendiri.
Saudaraku… Gus Dur banyak dipuji-puji sebagai tokoh Humanisme, Pluralisme, Demokrasi. Sebenarnya istilah-istilah itu apa maksudnya? Apa maknanya, dan bagaimana konsekuensinya? Disini kita akan bahas tentang bahasa besar di balik kampanye slogan Humanisme, Pluralisme, Demokrasi.

KADAR PRAKTIS-FILOSOFIS 

Secara sederhana humanisme bisa diartikan sebagai kemanusiaan, pluralisme sebagai paham keragaman, dan demokrasi sebagai “penentuan keputusan dengan suara terbanyak”.

Ketika bicara tentang isu Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, bisa dalam dua tataran. Pertama, tataran praktis, yaitu manfaat dari humanisme, pluralisme, demokrasi bagi kehidupan masyarakat. Kedua, dalam tataran filosofis, yaitu makna terdalam dari humanisme, pluralisme, demokrasi, serta pengaruhnya yang bersifat fundamental bagi keyakinan (ideologi) manusia.

Dalam tataran praktis, humanisme diamalkan misalnya dengan menyayangi orang sakit, memberi sedekah pengemis, menolong anak kecil yang jatuh, memberi bantuan sosial, mengirim Prita dengan koin-koin, menolong korban bencana alam, dsb. Jadi, tidak masalah disini, secara praktis.

Pluralisme secara praktis bisa diterjemahkan sebagai, menghargai perbedaan pendapat, mengakui keragaman potensi, kemampuan, mengakui perbedaan adat-kebiasaan, mengakui perbedaan perilaku hidup, dan lain-lain. Demokrasi diterjemahkan secara praktis, misalnya berunding dengan orang lain, bermusyawarah, melakukan undian penentuan sikap, pemilihan ketua kelompok, dan lain-lain.

Dalam tataran praktis, ya kita bisa memahaminya. Bahkan kita kerap memanfaatkan fungsi-fungsi humanitas, pluralitas, dan demokrasi itu. Ajaran Islam sangat mengakui tentang sikap tarhim (penyayang), fungsi syura (musyawarah untuk muakat), dan menghargai perbedaan pendapat fiqih (khilafiyyah).
Tetapi ketika paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dibawa ke tataran ideologis, konsep pemikiran, corak keyakinan, kita akan menyaksikan betapa bahayanya konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu. Amat sangat berbahaya. Bahkan saya yakin, Anda tidak melihatnya sedemian serius masalah in.

Konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah merupakan ajaran agama tersendiri. Bahkan ia sangat agressif dalam menyirnakan peranan agama-agama tradisional, termasuk Islam di dalamnya. Kalau seseorang benar-benar tahu, ada apa di balik Slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, niscaya dia benar-benar akan melakukan TAUBAT NASHUHA. Sungguh, paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sangat membahayakan semua agama, terutama Islam.

BAHAYA HUMANISME

Islam jelas-jelas mengajarkan sikap pengasih, penyayang, bahkan sekalipun kepada binatang. Nabi Saw mengatakan, “Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fis sama’i” (kasihi siapa yang ada di bumi, maka akan mengasihimu siapa yang ada di langit.”

Tetapi ideologi Humanisme itu berbeda. Ia bukan sifat-sifat pengasih, penyayang, seperti yang diajarkan Islam. Namun ia adalah suatu keyakinan untuk menjadikan manusia sebagai tujuan tertinggi kehidupan ini. Bukan matahari, bulan, batu, pohon, atau kuburan yang disembah-sembah disini, tetapi yang disembah adalah human interest (kepentingan manusia) itu sendiri. Humanisme itu suatu paham untuk mengagung-agungkan kepentingan manusia, mengalahkan kepentingan apapun yang lain.

Aplikasi dari paham ini, segala apa yang merugikan kebebasan, kepentingan, selera manusia, harus ditolak jauh-jauh. Termasuk hak Allah untuk mencampuri urusan manusia, juga harus ditolak. Maka Anda saksikan, para penganut humanisme sejati, mereka tidak mau menghukum anak-anaknya, memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya, sekalipun untuk memilih agama, memilih tindakan seks, memilih transaksi bisnis, dsb.

Apapun yang menjerat kebebasan manusia, termasuk aturan-aturan agama, harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Inilah ideologi asli kaum Humanis. Maka dalam Al Qur’an dikatakan, “Afa ra’aita manit takhadza ilahahu hawaha” (apakah engkau Muhammad tahu, siapa yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya). Ini benar-benar nyata, dan disebutkan demikian dalam Al Qur’an.

Sri Mulyani dalam dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV pernah mengatakan, setelah dia pulang dari studi di Amerika, kurang-lebih dia mengatakan, “Kemudian saya kembali ke Indonesia, kemudian menemukan suatu kehidupan yang concern utama-nya adalah manusia itu sendiri.” Ucapan Sri Mulyani ini adalah contoh bagus pemikiran seorang Humanis.
Orang-orang Humanis akan sangat banyak mengecam aturan-aturan Islam. Jangankan aturan hudud, aturan memerintahkan anak-anak shalat saja mereka tentang habis-habisan. Sebab memang concern utama mereka adalah menjadikan hawa nafsu itu sebagai sesembahan.

BAHAYA PLURALISME

Tidak kalah bahayanya adalah ideologi Pluralisme. Allahu Akbar, ini benar-benar ideologi yang amat sangat menghujat ajaran Islam. Konsep pemikirannya seolah baik, tetapi sejatinya amat sangat merusak.

Pluralisme adalah ideologi yang meyakini kebenaran majemuk (plural). Mereka itu bukan sekedar mengakui ada banyak agama di dunia ini, lebih dari itu mereka meyakini, bahwa: kebenaran itu tidak tunggal, tapi majemuk. Dengan keyakinan ini mereka mengakui bahwa semua ideologi di dunia bisa diterima sebagai kebenaran, sesuai sudut pandang masing-masing.

Kalau kita katakan, 1 + 1 = 2. Maka orang pluralis, akan mengatakan: “Relatif. Bisa 2, 3, 7, 10, bahkan tak terhingga. Tergantung dari sudut mana memandangnya.” Maka antara pemikiran PLURALISME dan RELATIVISME adalah dua saudara kembar yang saling mencintai satu sama lain.

Di mata kaum Pluralis, mereka biasa mengatakan, “Islam itu benar, menurut orang Islam. Tetapi Kristen juga benar, menurut orang Kristen. Begitu pula, orang Yahudi, Hindu, Budha, Tao, Kong Fu Tse, Sinto, Pagan Mesir, Pagan Quraisy Makkah, Majusi, dsb. mereka benar sesuai pandangan masing-masing.” Yang paling parah, mereka meyakini, bahwa syurga itu diperuntukkan bagi siapa saja, dari keyakinan apapun, termasuk atheis, selama mereka hidup di dunia sebagai orang yang bak, tidak mengganggu orang lain.

Jadi, Pluralisme ini pada dasarnya adalah KEKAFIRAN lain, setara dengan kekafiran-kekafiran di luar Islam lainnya. Bahkan, Pluralisme adalah mbah-nya kekafiran.

Coba Anda renungkan: Paham semua konsep ideologi adalah benar, sesuai pandangan masing-masing pemeluknya. Hal ini kan sama saja dengan MENGHALALKAN segala bentuk kekafiran. Kekafiran Fir’aun, musyrikin Quraisy, Rumawi, Persia, dan sebagainya dianggap tidak ada. Masya Allah, ini adalah KEKAFIRAN sekafir-kafirnya, karena memandang di dunia ini tidak ada kebathilan, semua dianggap benar dan boleh.

Tapi lucunya, kaum Pluralis itu amat sangat marah dengan kaum Mukminin. Katanya, mereka mengakui kebenaran semua keyakinan, termasuk Islam, tetapi mereka marah ketika melihat Ummat Islam meyakini agamanya dengan sangat konsisten. Mereka bisa menerima keyakinan apapun lainnya yang dipeluk para penganutnya secara konsisten, tetapi mereka amat marah ketika melihat Ummat Islam konsisten dengan agamanya. Ini menandakan, bahwa tujuan utama kaum pluralis adalah: Memerangi Islam itu sendiri!!!

Bayangkan, bagaimana kita tidak akan mengkafirkan kaum Pluralis, wong semua penganut agama di dunia, termasuk kaum-kaum yang diadzab oleh Allah di masa Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syuaib, Fir’aun, Abu Jahal, dsb sebagai orang yang benar. “Mereka adalah benar, sesuai pandangan mereka,” begitu logika kaum Pluralis.

Sebenarnya, pandangan Pluralisme itu adalah pandangan MANUSIA PALING DUNGU di dunia, paling dungu sejak jaman Nabi Adam As, sampai jaman Hari Kiamat nanti. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka meyakini bahwa semua keyakinan adalah benar. Padahal antar keyakinan itu sendiri saling bertabrakan satu sama lain. Misalnya, kaum Yahudi menganggap dirinya sebagai kaum terpilih; kaum Nashrani menganggap Yahudi sebagai domba-domba yang sesat dari kalangan Bani Israil; sementara Ummat Islam meyakini Yahudi sebagai manusia terkutuk.

Begitu pula, Hindu menganggap sapi sebagai hewan suci, Islam menganggap sapi sebagai hewan ternak, para penyayang binatang membenci manusia yang membunuh binatang, sedangkan para Biksu Budha tidak makan daging, hidup sebagai vegetarian.

Lihatlah, antar keyakinan itu saling bertabrakan satu sama lain, mungkinkah semuanya dianggap benar? Masya Allah, betapa dungu sedungu-dungunya kaum Pluralis itu. Nanti, kalau ada seseorang yang tiba-tiba melempar batu ke arah penganut Pluralis itu, si pelempar bisa berargumen, “Melempar batu ke jidat Anda adalah kebenaran, dari sudut pandangan saya. Jadi mohon jangan salahkan ya!”

BAHAYA DEMOKRASI

Sebenarnya, masalah ini sudah sering dibahas di berbagai kesempatan. Saya hanya mengulang sedikit saja. Ideologi demokrasi adalah kekufuran juga. Mengapa? Paham ini meyakini sebuah prinsip, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Artinya, peranan Tuhan dalam segala levelnya bisa diamputasi, diganti keputusan-keputusan yang diputuskan oleh manusia sendiri.

Peranan Allah Ta’ala dalam segala masalah bisa diamputasi, diganti segala putusan yang diperoleh melalui mekanisme demokrasi itu sendiri. Ini adalah ideologi kekafiran juga. Padahal sifat ajaran Islam adalah mengikuti petunjuk, bukan membuat petunjuk sendiri, atau trial and error.

Seseorang disebut MUSLIM karena dia melakukan TASLIM. Apakah taslim? Ia adalah berserah diri untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah hakikat Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah.
Dalam Al Qur’an disebutkan, “Keluarlah kalian (Adam dan Hawa) dari syurga, maka bilamana nanti datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al Baqarah; 38).

Inilah jalan Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah, bukan membuat parameter kebenaran sendiri, sekalipun ia disebut sebagai DEMOKRASI, diputuskan dengan suara terbanyak.

KESIMPULAN 

Dengan pembahasan ini, maka sangat jelas bahwa seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah: Seruan kekafiran, sekafir-kafirnya manusia kepada Kitabullah dan Sunnah. Bahkan, seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sebenarnya membahayakan semua agama, bukan hanya Islam. Dengan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, lama-lama eksistensi agama akan mati.

Tetapi karena di dunia ini yang memang sangat kokoh dalam memegang keyakinannya adalah Ummat Islam, maka slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dianggap sebagai ofensif untuk memerangi agama ini.
Namun Al Qur’an menjelaskan, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka (dengan segala media yang mereka miliki), namun Allah berkehendak menyempurnakan cahaya agama-Nya, meskipun orang-orang kafir itu tidak menyukainya.” (As Shaaff).

Andaikan saat ini banyak orang mengelu-elukan Gus Dur, dan menyebutnya sebagai pahlawan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, pada dasarnya mereka tidak mengerti saja. Mereka hanya memandang ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dari kulitnya yang tampak manis.

Nanti pada ujungnya, ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi ini sepenuhnya merupakan slogan yang dikembangkan oleh Freemasonry. Mereka ingin membabat semua agama/ideologi di dunia dengan ketiga slogan itu. Lalu mereka nanti akan mengarahkan manusia untuk memuja Lucifer, sang iblis.

Jadi, media-media massa, ormas, tokoh-tokoh, anggota DPR, dan siapapun yang ngeyel ingin mentahbiskan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, pada dasarnya mereka itu berada satu jalur ke arah tujuan penghambaan Lucifer. Hanya saja, mereka tidak tahu! Ya Allah, pimpin mereka ke arah kebenaran, pimpin ke arah taubat dan pengertian Islam. Allahumma amin ya Rahmaan ya Rahiim.

AMW.


24 Respon untuk BAHAYA: Humanisme, Pluralisme, Demokrasi !!!

  1. Pro Gus Dur mengatakan:
    Bismillah, ternyata di Indonesia ada hamba Allah yang merasa dirinya paling Islam, paling benar, sehingga dengan lantangnya mencela saudara sesama muslim.
    Semoga Allah mengampuni dosa kita semua..

  2. edi purnomo mengatakan:
    Saya mencoba memahami tulisan anda satu persatu, karena ingin sekali menemukan sebuah jawaban yang sedikit argumentatif, tentang dimana letak negatifnya paham Humanisme, pluralisme dan demokrasi yang anda sebutkan dalam tulisan anda. Saya hanya menemukan sebuah pandangan anda sendiri, yang seolah-olah mengatasnamakan Allah untuk menghujat paham-paham tersebut. bahkan, seolah-olah anda sudah bertindak sebagai Tuhan itu sendiri. Bagaimana tidak, dalam tulisan anda, berkali-kali anda seolah mewakili Tuhan untuk mengutuk mereka. Partanyaan saya, benarkah sikap Tuhan percis seperti sikap anda dalam memandang pahah-paham tersebut ?. bagaimana kita membuktikanya. paling tidak, bukti melalui argumentasi berdasarkan tafsir terhadap hadits maupun Al Qur’an.
    Saya sangat menghargai perbedaan pandangan, seperti yang anda sampaikan dalam tulisan tersebut. karena perbedaan itu juga sesutau yang wajar. Lawong dalam menjalankan syariat saja orang banyak yang berbeda-beda kok, walaupun perintahnya bersumber dari satu, yaitu al quran. bagaimana kita, sebagai manusia bisa melihat mana yang paling benar diantara perbedaan itu. tentu, salah satu jawabanya adalah pendapat ulama lah yang paling benar. tapi ulama yang mana ?.
    terima kasih
    salam
    EP

  3. anak_ilang mengatakan:
    lebay ah..

  4. alvin mengatakan:
    Syukron untuk tulisan2 antum..
    Semoga bangsa ini lebih cepat sadar.

  5. abisyakir mengatakan:
    @ Edi Purnomo…
    Saya mencoba memahami tulisan anda satu persatu, karena ingin sekali menemukan sebuah jawaban yang sedikit argumentatif, tentang dimana letak negatifnya paham Humanisme, pluralisme dan demokrasi yang anda sebutkan dalam tulisan anda. Saya hanya menemukan sebuah pandangan anda sendiri, yang seolah-olah mengatasnamakan Allah untuk menghujat paham-paham tersebut.

    Jawab: Sebenarnya, pandangan-pandangan seperti bukan baru lagi. Kalau Bapak suka membaca pandangan Dr. Adian Husaini, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, dan pakar-pakar anti liberalisme, Anda akan lihat titik kesamaannya. Cobalah Anda ikuti pandangan-pandangan mereka di situs http://www.hidayatullah.com. Saya sarankan membaca serial “Catatan Akhir Pekan” Adian Husaini. Disana banyak disampaikan pandangan kontra liberalisme pemikiran. Adapun untuk masalah demokrasi, ini sudah lama dibahas di forum-forum ilmiah Islam, sejak dulu, sejak jaman Abul A’la Al Maududi di Pakistan. Saya hanya membahas secara ringkas saja, biar mudah dipahami. Lagi pula ini blog, bukan sebuah buku. Ngertos Pak? 

    Bahkan, seolah-olah anda sudah bertindak sebagai Tuhan itu sendiri. Bagaimana tidak, dalam tulisan anda, berkali-kali anda seolah mewakili Tuhan untuk mengutuk mereka.

    Jawab: Ya, tidak begitu, Pak. Setinggi-tingginya pendapat saya, itu sifatnya pendapat manusia. Bisa benar, bisa salah; boleh diterima, boleh ditolak. Begitu lho. Anda kalau memilki pandangan yang berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan kerangka berpikir yang lurus, silakan sampaikan. Jangan selalu memakai argumen kaum Liberalis itu, kalay terpojok langsung saja keluar senjata pamungkas, “Memangnya Anda ini Tuhan?” Kaum Liberalis selalu begitu dalihnya, kalau sudah terpojok. 

    Sekarang Anda menyalahkan saya, karena menuduh saya bertindak seolah-olah mewakili Tuhan. Padahal saya tidak pernah mengklaim hal itu. Singkat kata, menurut Anda, Tuhan itu Maha Suci, tidak pantas diwakili oleh pandangan-pandangan yang saya sampaikan. Kemudian, Anda beranggapan, bahwa pandangan yang lebih mewakili “suara Tuhan” adalah pandangan Anda, atau orang-orang semisal Anda. Begitu kan? 

    Jika demikian, lalu siapa yang merasa mewakili pandangan Tuhan? Saya atau Anda? Coba jawab, jujur ya. 

    Partanyaan saya, benarkah sikap Tuhan percis seperti sikap anda dalam memandang paham-paham tersebut ? Bagaimana kita membuktikanya? Paling tidak, bukti melalui argumentasi berdasarkan tafsir terhadap hadits maupun Al Qur’an.

    Jawab: Kita ini kan hanya mengikuti petunjuk Kitabullah dan Sunnah. Tidak ada jaminan pendapat-pendapat kita merupakan tafsiran paling benar, di mata Allah Ta’ala. Yang dijamin pasti adalah pendapat Nabi Saw, atau diperluas dengan Ijma’ para Shahabat Ra. Adapun pendapat kita, tidak memiliki kepastian. Dalam kaidah ijtihad hukum, kalau seorang hakim memberi keputusan hukum, kalau benar diberi 2 pahala, kalau salah 1 pahala. 

    Tidak mungkin saya membahas paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi secara luas di forum ini. Anda tahu lah keterbatasan media seperti ini. Tapi secara sederhana saya sampaikan kaidah praktis untuk menguji ketiga paham itu, sesuai Syariat Islam. Coba jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini: 

    => Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu suatu bentuk ideologi atau bukan? Kalau bukan, mengapa disebut dengan kata “isme”?
    => Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu lahir dari peradaban apa? Peradaban Islam atau non Islam?
    => Bolehkah kita menilai Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dengan perspektif Al Qur’an dan As Sunnah? Atau ketiganya tidak boleh dinilai oleh pandangan apapun yang lain, karena dianggap sebagai konsep kebenaran mandiri?
    => Apa pengertian Humanisme? Apakah maksudnya adalah sifat pengasih/penyayang kepada sesama manusia, orang lemah, orang menderita, rakyat kecil, masyarakat miskin, bahkan menyayangi binatang? Jika maksudnya seperti itu, Islam menerima humanisme.
    => Sama dengan pertanyaan sebelumnya, apa pengertian Pluralisme dan Demokrasi? Apakah hanya sebatas aplikasi praktis yang bermanfaat dalam kehidupan sehar-hari, atau sampai mengarah ke masalah ideologis?
    => Jika Humanisme-Pluralisme-Demokrasi tidak dianggap ideologi, mengapa tidak kita ganti saja dengan istilah lan, misalnya: Akhlakul karimah, tasamuh dalam perbedaan pendapat, dan musyawarah untuk mufakat? 

    Dengan menjawab pertanyaan2 tersebut, Anda akan paham setidaknya posisi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dalam pandangan Islam. 

    Saya sangat menghargai perbedaan pandangan, seperti yang anda sampaikan dalam tulisan tersebut. karena perbedaan itu juga sesutau yang wajar. Lawong dalam menjalankan syariat saja orang banyak yang berbeda-beda kok, walaupun perintahnya bersumber dari satu, yaitu al quran. Bagaimana kita, sebagai manusia bisa melihat mana yang paling benar diantara perbedaan itu. tentu, salah satu jawabanya adalah pendapat ulama lah yang paling benar. Tapi ulama yang mana ? Terima kasih. 

    Jawab: Cara melihat perbedaan pendapat, bisa dilakukan, antara lain: Pertama, menyadari bahwa perbedaan pendapat itu sudah sunnah kehidupan manusia. Sejak jaman Habil-Qabil, sampai akhir jaman nanti, ada perbedaan pendapat. Kedua, lihat perbedaan pendapat itu dalam konteks iman dan kufur. Perbedaan antara Islam dengan Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, dsb. itu sudah pasti. Kalau tidak membedakan antara keimanan dan kekufuran, berarti seseorang belum beriman. Ketiga, kalau perbedaan antara sesama Muslim, lihat obyek perbedaannya, apakah masalah pokok (ushul) atau cabang (furu’). Masalah pokok itu menentukan beriman-tidaknya seseorang, lurus-sesatnya seseorang. Kalau perbedaan cabang, tidak memilki konsekuensi ke masalah-masalah fundamental. Seperti hukum-hukum tata-cara shalat, yang tidak keluar dari koridor Rukun shalat, itu termasuk masalah furu’ (cabang). Tapi misal kultus individu ke Gus Dur, Ahmadiyyah, bahaya Ribawi, pengrusakan moral masyarakat melalui pornografi, dan sejenisnya, itu masalah pokok. Keempat, meskipun kita sudah paham urut-urutan sampai tahap ketiga, alangkah baik kalau kita merujuk pendapat ulama-ulama yang terkenal shalih dan berpengalaman luas dalam ilmu. Untuk itu kita perlu rajin meneliti reputasi ulama-ulama selama ini. Nanti akan terlihat siapa yang mumpuni, siapa yang lemah. Itu akan terlihat dari penelitian kita. 

    Sayangnya, selama ini kita tidak runut dalam memahami masalah IKHTILAF ini. Kita belum memahami apa itu masalah pokok dan cabang, langsung disuruh fanatik ke pendapat syaikh/ustadz/organisasi tertentu. Ini salahnya disini. Kalau runut, insya Allah perbedaan pendapat akan disikapi dengan bijaksana.
    Itu dulu, semoga bermanfaat. Amin. 

    AMW.
  6. aaf mengatakan:
    Untuk Para PENGHUJAT GUSDUR…..
    ….Kalian Panitia Surga Semua Ya……..

  7. omiyan mengatakan:
    saya sendiri merasa sedih ketika Al-Quran dikatakan sebagai KITAB CABUL oleh Beliau sayangnya sepertinya beliau lupa ketika Beliau meninggal pemakamannya menggunaka cara Islam yang notabene ada pengucapan Ayat Al-Quran yang dikatakan cabul olehnya
    Salam

  8. [...] Bahaya Humanisme, Pluralisme dan Demokrasi 7 01 2010 READ MORE [...]

  9. aqse mengatakan:
    terima kasih

  10. uta888 mengatakan:
    ustad. tolong tulis tentang perdagangan bebas china-indonesia sekarang…

  11. no_aaf mengatakan:
    komentarnya kayak orang dungu juga ini

  12. Hamba Allah mengatakan:
    Assalamu’alaykum wrwb.
    Saya SETUJU dengan pandangan2 yg ustadz kemukakan. Hanya Islam-lah jalan yang benar. Islam adalah agama dan ideologi yang BENAR. Selaku seorang muslim sejati adalah sifatnya TUNDUK PATUH kepada semua aturan2 ALLAH SWT, yaitu SYARI’AT ISLAM itu sendiri. Dan PENGINGKARAN terhadap terhadap PENGHAMBAAN kepada semua sembahan, pengagungan, isme-isme yang bukan ISLAM, masuklah di dalamnya humanisme, pluralisme, sekularisme , kapitalisme, demokrasi dan sebagainya.

Dari luar terlihat manis, tetapi sebagai muslim, kita harus cermat dlm permasalahan ini.

Ustadz Abisyakir telah mengupas hakikat dari isme-isme ini, yang kesemuanya, SAYA juga menilainya bertentangan dgn ISLAM. Oleh karena itu, saya menolak isme-isme ini.


Janganlah BERHALA-BERHALA MODERN ini memalingkan kita dari jalan ALLAH yang lurus.

ALLAH SWT senantiasa menyempurnakan cahaya-NYA. 
Sesungguhnya ALLAH lah sebaik-baik PEMBUAT RENCANA. Makar kaum kafir tidak akan mampu memadamkan cahaya ISLAM. Justru merekalah yg menipu diri mereka sendiri…

  13. killua mengatakan:
    miang..miang..
    miang bi…

  14. mutiarazuhud mengatakan:
    Tanpa kita sadari Sekularisme, Pluralisme maupun Liberalisme adalah paham yang diserbarluaskan oleh kaum Illuminati.
    Bagi illuminati,
    Liberalisme, paham yang “membebaskan” manusia terhadap aturan Allah / Agama
    Pluralisme, paham yang membuat manusia “floating” / “ragu” akan agama.
    sedangkan sekularisme, paham yang menghindarkan manusia dalam kehidupannya me”referensi” kepada Allah / Agama
    selengkapnya baca di blog saya, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/

    Toleransi ?
    Umat muslim di Malaysia, “marah” terhadap penggunaan kata Allah bagi Katolik.
    Umat muslim di Malaysia tampaknya belum setoleransi umat muslim di Indonesia. Semoga tidak berkembang menjadi konflik lebih jauh.
    Di Indonesia walaupun ditulis sama Allah antara umat Islam maupun umat Katolik, namun tetap saja ada “perbedaan”.
    Karena “perbedaan” mengenal Allah pada ahli kitab sebelumnya maka Nabi Muhammad di beri wahyu Allah untuk memperbaikinya.

    Salah satu firman Allah , dalam surat Al-Ikhlas sebagai “pengobat” kekeliruan yang telah terjadi.
    Namun tidak ada paksaan bagi mereka akan tetapi firman Allah mengatakan,
    “Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran : 110)

    Jadi, konsep pluralisme adalah keliru ! baik dengan arti semua agama benar atau semua agama sama atau ada berbagai macam agama di dunia, karena Allah “memberitahukan” kepada manusia melalui nabi dan rasul secara bergantian tidak pernah bersamaan !
    Nabi yang kemudian “memperbaiki” ajaran nabi sebelumnya yang “dirusak”, “diubah”,”dilempar” oleh manusia.
    Sampai Allah telah menetapkan untuk yang “terakhir” akan menjaganya sampai akhir zaman.
    Wallahu a’lam

  15. Barisan Gusdurian mengatakan:
    [[[[[Jadi, Pluralisme ini pada dasarnya adalah KEKAFIRAN lain, setara dengan kekafiran-kekafiran di luar Islam lainnya. Bahkan, Pluralisme adalah mbah-nya kekafiran]]]]]
    Begitu mudahnya orang sekarang bilang kafir….
    enteng dan renyah..
    HUMANISME, PLURALISME, dan DEMOKRASI…adalah..kafir
    kalimat itu tanpa beban mengalir.

    Apapun pandangan dan penafsiran anda tentang Humanisme, Pluralisme dan Demokrasi, tidak ada yang melarang.
    Tapi satu hal yang perlu di ingat kita hidup di Indonesia. Ada Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar negara. Bukankah dalam Pancisla itu menghormati keragaman dan keberagamaan. Di dalam pancasila ada Humanisme, Pluralisme dan Demokrasi. 

    Apakah anda tremasuk orang tak mengakui adanya dua dasar negara itu. Karena sudah mengakafirkan, pluralisme dan humanisme. Berarti anda tak berhak hidup di Indonesia jika melakukan pengkhinatan kepada Pancsila dan UUD 45. Hiduplah di negara-negara yang menggunakan syariat Islam seperti di Arab Saudi.
    Perlu anda ingat, negara ini didirikan bukan hanya umat Islam. Indonesia itu awalnya Hindu Budha, kemudian baru Islam, Kristen+Katolik. Dahulu sebelum ada Hindu Budha menyembah pohon dan gunung. 

    Setelah Islam datang, yang terjadi di nusantara ini bukan lantas membasmi/membunuh mereka yang berbeda keyakinan. Tapi Islam yang bisa diterima di bersanding dengan kearifan dan budaya lokal. Islam Rahmatan lil alamin, tidak pernah memaksa umatnya mengenakan cadar dan mengangkat pedang berperang demi membela Tuhan.
    Bukankah Islam melarang, mengolok-olok kaum lain, menebar kebencian kepada umat manusia. Islam itu indah karena damai dan penuh cinta.

  16. rengkik mengatakan:
    Apakah Islam itu anti demokrasi ? Anti Humanis ? Anti Pluralis ?

  17. mutiarazuhud mengatakan:
    Tampaknya anda belum dapat membedakan antara pluralisme dengan pluralis.
    Pendiri bangsa kita telah meletakkan sistem kerakyatan , musyawarah untuk mufakat atau perwakilan. Tidak pernah meletakkan sistem demokrasi murni seperti yang diterapkan saat ini sehingga memungkinkan terpilihnya pemimpin yang dzhalim, lamban, tidak tegas, tidak taat kepada ulama, pemimpin sekedar popularitas, pemimpin yang lahir dari proses pencitraan semata maupun pemimpin yang tidak berkompeten karena hanya berdasarkan jumlah suara pemilih semata.
    Dengan sistem musyawarah untuk mufakat memungkinkan para perwakilan yang berkompeten memilih pemimpin yang layak, berkompetan, tegas, adil dan jujur.

  18. abilalif mengatakan:
    assalamualaikum
    ustad bgm menyikapi orang yg suka bela gusdur apakah seluruh polapikirnya akan seperti gusdur pula, ana punya guru yg baik2 guru pdhl hati sy mengingkarinya? mohon bimbingannya. jzkllah

  19. abisyakir mengatakan:
    @ Abilalif…
    assalamualaikum. ustad bgm menyikapi orang yg suka bela gusdur apakah seluruh polapikirnya akan seperti gusdur pula, ana punya guru yg baik2 guru pdhl hati sy mengingkarinya? mohon bimbingannya. jzkllah.

    Respon: Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Orang membela Gusdur kebanyakan karena ikut-ikutan, tidak mengerti, atau karena fanatik buta. Kalau dia mengerti agama, pasti tidak akan membela Gusdur. Atau bisa jadi dia terkena syubhat (keraguan); dia bimbang antara menganggap Gusdur sebagai problema Ummat dan sebagai “wali Allah”. Jadi tidak mesti setiap yang membela Gusdur sama pola pikirnya. Sebagai contoh, Matori Abdul Jalil, Alwi Shihab, AS Hikam, Muhaimin Iskandar, Khofifah Indar, dll. mereka itu semula sangat fanatik dengan Gusdur, tapi akhirnya mental-mental juga.
    Ya sebaiknya, kepada siapapun Anda lihat bagaimana hujjah (argumentasi) yang dipakai. Jangan lihat orangnya, tetapi lihat dalilnya/argumentasinya. Seperti kata pepatah, “Unzhur maa qala wa laa tanzhur man qala” (lihat apa yang dia katakan, jangan lihat siapa yang berkata). Meskipun guru, ustadz, atau siapa saja, kalau hujjahnya lemah, jangan diikuti (pada bagian itu). Tetapi boleh diikuti dalam hal-hal lain yang dia memiliki ilmu, dalil, atau hujjah yang benar.
    Allahu yahdik wa yubarik fiik. Amin.
    AMW.

  20. islamprodamai mengatakan:
    Assalamu’alaikum Ustad!! bismillah.semoga Allah S.W.T merahmati kita semua.. Ustad, menanggapi artikel anda,bahwa kita sbagai umat islam harus mewaspadai paham2 diluar islam yg notabene berasal dri non muslim, tetapi setiap individu muslim itu juga memiliki pandangan yg berbeda2 dalam menyikapi paham2 tsb, ada yg 100% menolak, tetapi ada juga yg menerima dg memfilter dahulu. Kita sebagai sesama muslim juga harus menghormatinya… Ustad, menurut anda bagaimana hukumnya bagi orang yg menceritakan keburukan orang lain dan mnyebutkan pula identitasnya??? itu saja dri saya… wassalam.!!!

  21. abisyakir mengatakan:
    @ Islamprodamai…
    Ustad, menurut anda bagaimana hukumnya bagi orang yg menceritakan keburukan orang lain dan mnyebutkan pula identitasnya??? itu saja dri saya… wassalam.!!!
    Jawab: Tergantung kesalahan orang tersebut Akhi. Kalau kesalahannya kecil, atau menyangkut aib pribadi yang tertutup; ya tidak perlu diekspose. Kecuali kalau sudah menyangkut kekufuran, penghujatan kepada Syariat, kezhaliman, perbuatan keji, dll. apalagi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh terpandang; kalau seperti itu harus disebutkan perbuatan dan pelakunya, agar tidak menyesatkan Ummat. Maka itu dalam Al Qur’an disebut nama-nama seperti Fir’aun, Haman, Qarun, kisah Namrudz, Abu Lahab, dll.
    Semoga bisa dimengerti.
    Admin.

  22. Si Polan mengatakan:
    astaghfirullahal adhim……?, perbedaan pendapat diantara ummat adalah rahmat, kenapa saling mengkalim bahwa dirinya yang paling benar, menganggap orang yang berpikir beda dianggap salah, apalagi kalau sdh beda organisasi, wuach…..? kalau seperti ini bisa bahaya. berpikirlah dengan jernih sebelum saudara-saudara memulai menulis karena akan dibaca oleh orang banyak, jangan menuruti hawa nafsu yang menjadikan pemicu adanya konflik, kita hidup di negara NKRI yang sangat pluralis dan multikulturalis.saya khawatir bagaimana dengan seseoarng yang kadar keilmuannya kurang bisa memahami perbedaan ini ? tolong jangan saling mengkalim bahwa dirinya yang paling benar apalagi saling hujat menghujat diantara kita……, ingatlah yang paling haq (benar) adalah Allah swt

  23. samsul falah mengatakan:
    astaghfirullahal adhim……?, perbedaan pendapat diantara ummat adalah rahmat, kenapa saling mengkalim bahwa dirinya yang paling benar, menganggap orang yang berpikir beda dianggap salah, apalagi kalau sdh beda organisasi, wuach…..? kalau seperti ini bisa bahaya. berpikirlah dengan jernih sebelum saudara-saudara memulai menulis karena akan dibaca oleh orang banyak, jangan menuruti hawa nafsu yang menjadikan pemicu adanya konflik, kita hidup di negara NKRI yang sangat pluralis dan multikulturalis.saya khawatir bagaimana dengan seseoarng yang kadar keilmuannya kurang bisa memahami perbedaan ini ? tolong jangan saling mengkalim bahwa dirinya yang paling benar apalagi saling hujat menghujat diantara kita……, ingatlah yang paling haq (benar) adalah Allah swt

  24. abisyakir mengatakan:
    @ Si Polan…
    Ada seorang kawan mengatakan, “Prinsip liberalisme, pluralisme, itulah yang akan menghancurkan NKRI.” Saya setuju itu, setuju sekali. Bangsa tanpa identitas dan jati diri, pasti hancur berkeping-keping. Pluralisme, Liberalisme, akibatnya nanti kesana.
    Admin.

    http://abisyakir.wordpress.com/2010/01/05/bahaya-humanisme-pluralisme-demokrasi/#comment-7064

    وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ