Minggu, 29 Juli 2012

~* Ketika... *~

          
      







Ketika...

Ketika Engkau bertanya....
Kapan saat-saat dirimu mengalami ketenangan, tanpa pikiran, tanpa keinginan, tanpa harapan..    tanpa tekanan..?
Waktu terbaik yang Allah berikan , yg Allah tunjukkan dan Allah perlihatkan kepada Hamba        -  hambanya yg mau mengikuti petunjuk-NYA..
Adalah disaat keinginan hawa nafsu memerintahkan untuk pulas menikmati hangatnya selimut tebal menghapus kedinginan dan menyamankan badan...tidur malam hari.

Namun.....!!! disaat itulah Engkau harus melawannya...
Ada sesuatu yang dijanjikan Tuhanmu akan nampak apabila engkau mau mengikuti-NYA
Sesuatu yang hanya bisa di rasakan kenikmatannya bagi hamba yang senantiasa mendekatkan diri kepada-NYA.
Bukan keinginan diri sendiri, tapi keinginan lain akan berjalan,memunculkan ide-ide,membuat  rencana dan keputusan terbaik.
Sesuatu mulai memerintahmu..........!

Ingatlah...tatkala Jibril  membangunkan Rosululloh SAW, ketika Beliau ketakutan setelah menerima Wahyu pertama, dan beliau menyembunyikan diri dibawah selimut kemudian sosok wanita Mulia menyelimutinya...? Khadijah (Istri beliau).
Setelah menenangkan diri beliau kembali bertahannuts di Gua Hira’.

Jangan pernah bertanya bila belum pernah melakukannya, karena engkau tidak akan dapat melukiskannya ,mengungkapkan dg kata
dan merasakan  ketergantungan yang amat sangat hanya kepada-NYA
Tak satupun di dunia ini  yang dpt  menggantikan saat-saat  ketentraman dan menyamankan kita rasakan yaitu: Disaat Tuntutan Ruh kita terpenuhi untuk selalu berdekatan dengan-NYA

Dalam keheningan malam, tanpa sadar meneteskan air mata, mengeluarkan semua RACUN tekanan yang menghimpit disiang hari,  memohon untuk mencari penyelesaiannya dengan mengadu kepada-NYA.

Jangan pernah mengadukan semua urusan kepada manusia, sebab manusia tidak akan dapat memberikan ketenangan dan kedamaian.
Jangan pernah mengeluh atas segala cobaan yang menimpa sebab semua terjadi atas seijin-NYA
Jangan pernah menanyakan kenapa masalah selalu mengelilingi, karena ini semakin mengkerdilkan akal dan hati.
Jangan pernah berhenti dalam pencarian terhadap Ridho Tuhanmu..InsyaAllah kamu akan mencapainya.
Menangislah hanya kepada-NYA...tanpa berniat menangispun kau akan meneteskan air mata...
Air mata cinta..air mata cinta merindukan kedamaian...cinta merasakan kecanduan, ketergantungan dan mencapai kenikmatan melepaskan  semua beban masalah, tanpa kata, tanpa suara, tanpa pikiran  yang hanya akan menguras akal

Biarkan semua mengalir..kau hanya tinggal melantunkan ayat-ayat-NYA dalam hati......
 Pikiranmu akan lepas dan semua didalam dirimu akan terdiam....
Terdiam kosong, terdiam tanpa lupa, karena kau telah menghafal Ayat-ayat-NYA.
Meski kau tak paham maknanya namun kau bisa menangis......
Itulah saat-saat seorang hamba sedang mengalami dan merasakan berdekatan dengan-NYA dlm kehusyukan.

Selanjutnya tinggal mengikuti petunjuk  NYA, tanpa sadar menggiringmu untuk melahirkan setiap keputusan diluar sadarmu......
Keputusan yang terbaik menurut ALLAH bukan menurutmu, meski kamu tidak suka tapi inilah yang dikehendaki-NYA.

Ingat janji-NYA.... akan ada sesuatu yang besar menantimu yaitu:
KEDEWASAAN, KEMATANGAN DALAM BERFIKIR dan KETENANGAN dlm menghadapi setiap masalah, akan kamu peroleh.
Dalam kekhusyukan tahajud  malam hari,  selalu meminta petunjuk-NYA melalui Istikharoh.....
ALLAh mendidik dan mengajari dirimu agar engkau menjadi manusia yang punya harga diri, bernilai tidak mudah di permainkan manusia.
Dunia tak akan dapat membujukmu, kau akan menjadi manusia yang tangguh dan kuat serta sabar menerima ujian...Insya Allah.

“Wastaiinu bisshobri wassholat wainnahaa lakabiirotun illaa’alallkhoosyiin...” Artinya; ‘Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya sholat itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (Qs. Al-Baqoroh: 45).

Akhirnya...... Insya Allah kehendak Allah lah yang akan berjalan......
Ketergantunganmu kepada manusia akan hilang....
Ketergantunganmu  atas tuntutan hawa nafsumu sendiri akan hilang.....
Segala keinginan diri, keinginan mata, keinginan telinga, keinginan lidah akan terhenti.
Ketergantunganmu pada benda, pada Dunia akan sirna, tak silau dengan kemewahan, tak tertipu dg sifat manusia.
Pasrahkan, serahkan, ikhlaskan, biarkan Allah yang memilih dan ALLAH yang akan mengendalikan....
Bukan keinginanmu....bukan pilihanmu dan bukan keinginan, mata, hati, telinga lidah yang selalu salah...

Mintalah... untuk diajarkan selalu mengingat-NYA
Mintalah... keinginan selalu memperbaiki ibadah kita yg kurang benar..perbaiki ibadahmu maka Tuhanmu akan senang.
Mintalah... untuk di ingatkan agar kita senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat-NYA.
Mintalah... kecukupan dari rasa kekurangan, pelunasan hutang-hutang, penyelesaian masalah-masalah.
Mintalah...dijauhkan dari takdir buruk ,segala keburukan datangnya dari sendiri.

Qs, Yasiin: 19.
“Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri, apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami) sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.

Segala kemalangan datangnya dari diri sendiri, bila ingin terhindar dari Takdir buruk, selalu mengikuti apa yang Allah kehendaki atas diri manusia agar terhindar dari kemalangan.

Rosulullah bersabda: ‘Hendaknya mereka berdo’a, Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-MU, tidak ada ada kemalangan kecuali telah mendapatkan ijin-MU, dan tidak ada Tuhan selain Engkau.”
Hanya Allah yang mampu mendatangkan kemalangan dan kebaikan.

Manusia hanya bisa berdo’a dan menjalankan perintah-NYA, selanjutnya hanya tinggal menunggu hasil usahanya dan tidak ada waktu yang tepat untuk bermunajat kepada-Nya kecuali Tahajut pada malam hari dan kamu tidak akan dapat Istiqomah melakukannya sebelum merasakan manfaatnya bagi dirimu, tak bisa kami memaksamu melakukannya, yang  bisa kami  lakukan hanya mencontohkannya kapadamu.

“Beginilah nak...Beginilah mas...beginilah dik, cara yang tepat untuk menyelesaikan semua masalah , Insya Allah janji Allah dekat, janji Allah untuk segera menolongmu akan segera tiba tanpa kau menyadarinya bahwa Allah telah menolongmu.... ketenangan, kedamaian akan kau peroleh dan ditampakkan segala keburukan dari siapapun yang akan merugikan dirimu...

آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن


وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ















~* Ujian Hidup di Dunia *~













Dalam Al Qur'an surat Al 'Ankabuut (29) ayat 2 - 3, disebutkan firman Allah swt. yang berbunyi:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ، فَلَيَعْلَمَنَّ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ .
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta!
Dalam surat Al Baqarah (2) ayat 214 Allah swt. berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ، مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ
وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتَّى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ ؛ أَلاَ إِنَّ نَصْــرَ 
اللّهِ قَرِيْبٌ .
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat".
Dalam surat Al Baqarah (2) ayat 155 - 157 Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّـمَرَاتِ ؛ 
وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ . الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ . أُوْلـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ، وَأُوْلئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ .
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesung-guhnya kita adalah orang-orang yang kembali kepada-Nya. Mereka itulah yang menda-pat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk".

Ayat-ayat tersebut di atas dan ayat-ayat lain yang senada memberi pelajaran kepada kita sekalian bahwa setiap orang yang hidup di dunia ini, dalam mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya akan selalu menghadapi berbagai macam rintangan dan ujian. Ujian-ujian tersebut dimaksudkan agar:

§  Setiap orang yang hidup di dunia ini menyadari bahwa untuk mencapai tujuan hidupnya di dunia ini tidaklah semudah dan semulus yang dibayangkan; akan tetapi harus melalui berbagai macam rintangan dan ujian.

§  Setiap orang menyadari bahwa semua rintangan dan ujian hidup seperti: rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kematian anggauta keluarga, musim kemarau yang panjang yang menyebabkan tanam-tanaman tidak berbuah dan lain sebagainya adalah se-ngaja diciptakan oleh Sang Pencipta manusia, agar manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup, baik di dunia yang berupa kepuasan jiwa (bukan kepuasan nafsu) maupun kebahagiaan di akhirat yang berupa kenikmatan sorga yang kekal dan abadi. Sebab setiap orang yang telah lulus dari sesuatu ujian hidup, lebih-lebih ujian yang berat, maka dia akan memperoleh kepuasan jiwa.

§  Setiap orang menyadari bahwa dirinya tidak mungkin dapat lulus dari ujian tersebut tanpa mendapatkan pertolongan dari Allah swt. yang telah membuat ujian-ujian hidup tersebut, meskipun dia memiliki tenaga yang sangat kuat, akal fikiran yang sangat cerdas, harta benda yang melimpah ruah dan teman atau anak buah yang sangat banyak.

§  Setiap orang menyadari bahwa pertolongan Allah swt. tersebut harus diminta. Dan untuk meminta pertolongan Allah swt., seseorang harus rajin menghadap ke hadirat-Nya paling tidak sehari semalam lima kali, dengan cara yang telah ditentukan olehNya, yaitu shalat lima waktu.

§  Setiap orang menyadari bahwa untuk dapat lulus dari berbagai macam ujian dan cobaan hidup tersebut, disamping harus memohon pertolongan dari Allah swt. dia wajib bersabar, dalam arti harus memiliki keyakinan yang teguh bahwa sebenarnya dirinya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

§  Keyakinan yang demikian itu mengharuskan seseorang untuk menyelesaikan dan mengatasi semua rintangan dan ujian hidup menurut cara-cara yang dibenarkan oleh akal yang sehat dan dibenarkan pula oleh syari'at agama Islam; dan bukan lari ke dukun-dukun untuk meminta pertolongan dan bantuannya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah dan Al Hakim, Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَــلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Barangsiapa yang datang kepada ahli nujum (tukang meramal) atau dukun (orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib), kemudian dia membenarkan (percaya) apa yang ahli nujum atau dukun tersebut katakan, maka benar-benar dia telah kafir terhadap kebenaran Al Qur'an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw."
Imam At Thabrani meriwayatkan hadits Nabi Muhammad saw.:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ أَتَاهُ غَيْرَ مُصَدِّقٍ لَهُ لَمْ يُقْبَلْ لَهُ صَلاَةُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَا .
Barangsiapa yang datang kepada dukun kemudian dia membenarkannya apa yang ia katakan, maka dia benar-benar telah melepaskan diri dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dan barangsiapa yang datang kepada dukun dalam keadaan tidak membenarkan omongannya, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ حُجِبَتْ عَنْهُ التَّوْبَةُ أّرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ، فَإِنْ صَدَّقَهُ بِمَا قَالَ فَقَدْ كَفَرَ .
Barangsiapa yang datang kepada dukun kemudian dia bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka ditutup baginya pintu taubat selama 40 hari. Dan jika dia membenarkan omongan dukun tersebut, maka benar-benar dia telah menjadi kafir.
Sebenarnya, ujian hidup itu tidak hanya berupa hal-hal yang tidak mengenakkan saja; akan tetapi hal-hal yang menyenangkan, seperti: kekayaan, kesehatan, keberhasilan dan lain sebagainya, juga termasuk ujian hidup. Jika ujian hidup itu berupa hal yang tidak mengenakkan, kita dituntut untuk bersabar dalam arti selalu berada pada garis kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Dan jika ujian hidup itu berupa hal-hal yang menye-nangkan, maka kita dituntut untuk bersyukur. Hanya saja kenyataan menunjukkan bahwa menyukuri nikmat itu jauh lebih sulit dari pada bersabar.
Dalam Al Qur'an surat Al Mulk ayat 2 Allah swt. berfirman:
اَلَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً ، وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ .
Dia menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia dapat menguji kamu sekalian, siapakah di antara kamu sekalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia adalah Yang Maha Mulia lagi Maha Mengampunkan.
Secara terperinci, ujian-ujian hidup itu antara lain sebagai berikut.

Ujian yang berupa gangguan yang datangnya dari jin

Untuk itu, setiap kali kita mau bertindak, hendaklah kita jangan sampai lupa membaca do'a yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. sewaktu beliau dikejar oleh jin Ifrit dalam perjalanan isra' sebagai berikut:
أَعُوْذُ بِوَجْهِ اللّهِ الْكَرِيْمِ وَبِكَلِمَاتِ اللّهِ التَّامَّاتِ الَّتِى لاَ يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِر ٌمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِى الأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ طَوَارِقِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَانُ .
Aku berlindung dengan wajah Allah Yang Maha Mulia dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak ada orang yang baik dan tidak pula orang yang durhaka dapat melampauinya, dari kejahatan apa saja yang turun dari la-ngit dan dari kejahatan apa saja yang naik ke atas langit; dari kejahatan apa saja yang masuk ke dalam bumi dan dari kejahatan apa saja yang keluar dari bumi; dari fitnah-fitnah di waktu malam dan siang hari, kecuali bencana yang datang dengan kebaikan, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Kemurahan rizki

Sebenarnya kemurahan rizki yang diberikan oleh Allah swt. kepada seseorang itu, terkandung di dalamnya hak milik dari orang-orang yang fakir. Sehingga orang yang diberi kemurahan rizki itu adalah orang yang diuji oleh Allah swt. apakah dia dapat menyukuri kemurahan rizki tersebut dengan memberikan hak fakir miskin yang dititippkan oleh Allah swt. kepadanya ataukah tidak. Jika dia berikan, berarti dia lulus ujian; dan jika tidak, maka dia tidak lulus ujian.
Dalam surat Adz Dzariyat ayat 19 Allah swt. berfirman:
وَفِى أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُوْمِ .
Dan pada harta-harta mereka terdapat hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.

Ujian dari keteguhan iman, dengan jalan diberi kemelaratan dan lainnya

Pada saat yang demikian itu apakah seseorang akan tetap teguh imannya, ataukah menjual imannya dengan harta, kedudukan dan lainnya.

Kesibukan pekerjaan

Pekerjaan yang sangat sibuk itu juga merupakan ujian, apakah seseorang berani menunda atau melalaikan atau meninggalkan kewajibannya menghadap kepada Allah swt. berupa shalat fardlu atau tidak.

Penyelewengan seksual

Terkadang seseorang digoda oleh wanita yang jauh lebih cantik dari isterinya sendiri atau laki-laki yang lebih tampan dari suaminya sendiri untuk melakukan penyimpangan seksual, sementara orang tersebut sedang mengalami kebosanan terhadap isteri atau suaminya sendiri.

Perbuatan iseng

Yaitu duduk di tepi jalan untuk mengganggu orang-orang yang lalu-lalang karena tidak ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan

Membungakan uang dengan jalan riba

Jabatan rangkap

Terkadang seseorang yang telah memangku jabatan tertentu dibebani lagi dengan jabatan yang lain, sehingga dia tidak mampu melaksanakan amanat-amanat yang harus dilaksanakan.

Permintaan pidato, nasihat

Dari orang lain untuk berpidato dan memberikan nasihat tentang hal-hal yang dia sendiri belum mampu mengerjakannya

Melihat cacat orang lain

Sehingga ada kecenderungan untuk menggunjingnya, sedangkan dalam diri sendiri terdapat banyak kesalahan yang harus dikoreksi.





Jumat, 27 Juli 2012

~* Menggugat Pluralisme [1]: Kesalahan Tafsir Surah Al-Baqarah 62 *~




Ada saja cara kalangan liberal dan pendukung pluralisme untuk menjustifikasi pemikiran mereka. Salah satu cara yang sangat sering mereka lakukan adalah memelintir ayat dan menafsirkannya sekehendak perut mereka. Mereka selalu berargumen bahwa menafsirkan kitab suci adalah hak setiap orang, dan tidak boleh ada yang mengklaim dan membatasi kebenaran hanya pada satu tafsir saja. Bagi saya, pernyataan ini berbahaya karena terkesan benar padahal pondasinya sangat rapuh.


Berbicara tafsir Al-Qur’an, maka pijakan awal kita adalah kesepakatan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, Tuhan semesta alam. Mengapa Al-Qur’an harus diyakini sebagai kalam Allah? Saya persilakan Anda mengkajinya di kitab-kitab yang membahas ‘Aqidah maupun ‘Ulumul Qur’an. Pijakan awal ini mengharuskan kita untuk menyepakati bahwa tafsir yang benar adalah tafsir dari-Nya sendiri. Jadi, untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, yang pertama harus dilakukan adalah menafsirkannya dengan ayat Al-Qur’an lain yang relevan atau melalui hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –yang Allah sendiri telah nyatakan bahwa hadits Rasulullah juga merupakan wahyu dari-Nya–.


Cara kedua –jika tafsirnya tak dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits– adalah dengan mengikuti penafsiran kalangan shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in. Mengapa? Sangat jelas, karena shahabat adalah murid langsung dari Nabi, mereka mengiringi Nabi sepanjang perjalanan hidup beliau, tentu mereka lebih bisa memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dibanding kita. Hal ini terlalu logis untuk dibantah.


Cara ketiga –jika pun tak ada juga tafsir dari shahabat–, maka kita harus kembali ke fakta bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan dalam bahasa Arab. Untuk memahami makna-maknanya, kita harus merujuk ke bahasa tersebut. Maka, di sebagian kitab tafsir, ada ulama tafsir yang menafsirkan sebagian ayat mengikuti makna bahasanya. Untuk melakukan ini, perlu mujahadah untuk memahaminya. Tidak bisa sembarangan, apalagi serampangan. Selain penguasaan bahasa, ahli tafsir juga perlu menguasai ilmu-ilmu syar’i lainnya, tentunya agar tafsirnya tidak menyimpang dari pondasi dasar Islam.


Nah, sayangnya, para penganut pluralisme dengan pongahnya menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an seenak perut mereka sendiri tanpa mengikuti kaidah ilmiah yang seharusnya. Tentu wajar jika tafsirnya harus kita gugat. Tentu wajar jika tafsirnya tak layak untuk dirujuk. Sangat logis.


Nah, salah satu ayat yang mereka pelintir adalah surah Al-Baqarah ayat 62. Berikut bunyi ayatnya.


إِنَّ ٱلَّذِينَ آمَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَارَىٰ وَٱلصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Secara serampangan mereka menafsirkan ayat ini sebagai pembenaran bahwa bukan cuma umat Islam yang akan selamat, bukan cuma yang mengikuti Muhammad yang berada di jalan kebenaran. Benarkah tafsirnya seperti itu? Jawabannya, tidak.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan Salman Al-Farisi tentang shahabat-shahabat beliau dulu yang beragama Nashrani. Dari pertanyaan Salman tersebut, turunlah ayat ini.


Ibnu Katsir kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Yahudi di ayat tersebut adalah orang-orang yang mengikuti Taurat dan sunnah Musa hingga datang ‘Isa. Yang dimaksud Nashrani adalah orang-orang yang mengikuti Injil dan Syariat ‘Isa hingga datangnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga menjelaskan, pengikut Musa yang tidak mengimani dan mengikuti ‘Isa –setelah kedatangan Isa– akan celaka. Demikian juga pengikut ‘Isa yang tidak mengikuti Muhammad dan syariat yang dibawanya, juga akan celaka. Tentang Shabiin, sebagian ahli tafsir berbeda pendapat, namun semuanya menunjuk pada satu pemahaman bahwa Shabiin adalah penganut ajaran-ajaran terdahulu sebelum kedatangan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Statusnya pun sama persis dengan Yahudi dan Nashrani.


Jika ingin lebih yakin, silakan langsung merujuk ke kitab Tafsir Ibnu Katsir atau tafsir mu’tabar lainnya.
Dari sini bisa kita pahami bahwa ayat ini sama sekali tidak membenarkan ‘aqidah orang-orang yang menganut selain Islam setelah kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secara ‘aqidah mereka adalah kafir dan tidak akan mendapatkan keselamatan di akhirat kelak. Bagi seorang muslim, pemahaman seperti ini harusnya mudah saja diterima. Pemahaman ini juga sesuai dengan firman Allah di surah Ali ‘Imran ayat 85 sebagai berikut.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلإِسْلَـٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلآخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ


*****

Insya Allah saya akan coba buat tulisan ber-’seri’ untuk menggugat pemahaman-pemahaman pengusung pluralisme yang saat ini begitu mewabah dan terkesan ‘hebat’. Wallahul musta’an.




~* Menggugat Pluralisme [2]: Mematikan ‘Truth Claim’, Menghidupkan Kebimbangan *~







 


Salah satu gagasan utama para pendukung pluralisme adalah membuang klaim kebenaran (truth claim). Mereka beranggapan, truth claim-lah yang menyebabkan banyaknya konflik antar umat beragama, sikap intoleran, bahkan terorisme. Apakah anggapan ini benar? Jelas sekali anggapan ini keliru, jauh dari kebenaran dan berdasarkan asumsi yang mentah.

Bagi seorang muslim, truth claim merupakan ‘harga mati’. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam surah Ali ‘Imran ayat 19:

إن الدين عند الله الإسلام

Allah ta’ala juga berfirman dalam surah Ali ‘Imran ayat 85:

ومن يبتغ غير الإسلم دينا فلن يقبل منه وهو في الأخرة من الخسرين

Dua ayat di atas menunjukkan klaim kebenaran (truth claim) yang dimiliki oleh Islam. Saya yakin, di agama lain juga punya konsep seperti ini.

Secara ‘aqli, truth claim merupakan hal yang wajar dan ‘wajib’ ada di setiap ajaran agama. Mengapa? Jelas, karena setiap agama (diin) hadir membawa sebuah ajaran sekaligus menafikan ajaran-ajaran selainnya. Coba pikirkan, mengapa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam rela meninggalkan kenikmatan hidup duniawi untuk memperjuangkan Islam, bahkan harus bersitegang dan berperang dengan suku, kabilah dan keluarga beliau sendiri demi meninggikan kalimat Islam? Jawabannya tentu karena Rasulullah dan para shahabat beliau meyakini kebenaran Islam dan mengingkari kebenaran ajaran-ajaran lain selain Islam. Jika beliau tidak berpikiran seperti itu, tentu lebih baik beliau hidup tenang-tenang saja di Makkah.

Sekarang mari kita telanjangi kesalahan pemikiran para pendukung pluralisme tentang konsep ini.

1. Benarkah truth claim menyebabkan konflik berkepanjangan antar umat beragama?

Jika kita sedikit saja mencoba mempelajari sejarah kegemilangan Islam sejak pertama kali tumbuh di Madinah sampai kemudian mendunia, kita akan mengetahui bahwa umat yang paling toleran terhadap perbedaan adalah umat Islam. Tentang perbedaan suku dan kelas sosial, tak perlu diperjelas lagi. Cahaya Islam terlalu terang untuk ditutupi dan dibuat buram. Islam telah menegaskan bahwa ukuran kemuliaan adalah ketaqwaan, bukan suku, ras, ekonomi atau kelas sosial.


Tentang toleransi antar umat beragama, Madinah di masa Nabi adalah contohnya. Di sana, selain Islam hidup pula orang-orang Yahudi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan mereka dan bersikap sangat toleran dengan mereka. Yahudi baru diusir dari Madinah karena pengkhianatan mereka terhadap perjanjian yang telah mereka buat bersama umat Islam.


Sikap toleran ini juga terpampang jelas di dunia Islam. Dulu, –ketika Palestina masih di bawah kepemimpinan Islam– Yahudi, Nasrani dan Islam bisa hidup berdampingan dan tidak ada konflik seperti sekarang. Di negeri-negeri Islam lain pun juga begitu. Dan sikap toleransi umat Islam kepada umat agama lain sama sekali tidak menghilangkan truth claim yang mereka miliki. Mereka masih memegang pemahaman yang disampaikan Allah ‘azza wa jalla di surah al-Kaafiruun. Toleransi –yang tidak kebablasan– pada faktanya bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan ‘aqidah. Untuk rujukannya, silakan baca kitab-kitab Tarikh Islam.

2. Apakah ujung dari konsep peniadaan truth claim?

Bagi pendukung pluralisme, umat Islam tak boleh mengatakan dan meyakini bahwa hanya melalui Islam-lah ‘keselamatan’ akan didapatkan. Bagi mereka, umat Islam harus meyakini bahwa semua agama –termasuk ajaran pagan dan ajaran setan (?)–, menuju hal yang sama, cuma jalannya saja yang berbeda. Bagi mereka, perbedaan jalan adalah hal yang wajar dan masing-masing tidak boleh mengklaim hanya jalan mereka lah yang benar. Inilah dasar dari ajaran pluralisme. Apa hasil dari konsep seperti ini?


Hasilnya adalah kebimbangan. Pernyataan-pernyataan aneh akan muncul jika seseorang mengadopsi pemikiran keblinger ini, semisal, ‘Jika Islam dan Nasrani sama-sama benar, lalu untuk apa saya bertahan dengan keislaman saya, ajaran Islam kan susah.’ Atau, ‘Jika kebenaran tak hanya ada pada Islam, berarti boleh dong saya gonta-ganti agama semau saya.’ Atau, ‘Jika semua agama menuju satu tujuan yang sama, boleh dong saya membuat agama baru dengan tatacara baru, yang penting tujuannya sama.’ Atau, ‘Kalau tidak ada agama yang memiliki kebenaran mutlak, untuk apa saya beragama?’


Ternyata, ujung dari pluralisme adalah agnostisisme dan ateisme. Makanya, di Eropa –yang mengagungkan pluralisme– begitu banyak orang yang tak beragama, bahkan sebagian menyatakan tak percaya –minimal meragukan– adanya Tuhan. Dr. Syamsuddin Arif yang pernah belajar di Jerman –di buku beliau “Orientalis & Diabolisme Pemikiran”– menceritakan fenomena tersebut.


*****


Jadi, bisa kita simpulkan, ide pluralisme yang menafikan dan mematikan truth claim hanya akan melahirkan kebimbangan pemikiran. Para pendukung ide pluralisme hanya akan berputar pada kebimbangan, karena –jika mereka jujur dengan konsep mereka– mereka tak akan punya ‘konsep kebenaran’ yang bisa mereka pegang. Bahkan, mereka –kembali, jika mereka jujur dengan konsep mereka– tak boleh mengklaim ide pluralisme sebagai ide yang pasti dan mutlak benarnya, karena itu sama saja mereka melakukan klaim kebenaran yang selama ini selalu mereka tolak.


Bagi pendukung pluralisme, silakan berbimbang ria. Bagi umat Islam, semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah ta’ala sehingga bisa selamat dari berbagai kesesatan pemikiran yang saat ini begitu banyak dijajakan. Wallahul muwaffiq ilaa aqwaam ath-thariiq.


~* Menggugat Pluralisme [3]: Memelintir Makna Surah Al-Baqarah Ayat 256 *~







 


Salah satu cara yang sangat sering digunakan oleh pendukung ide pluralisme –entah yang memang dididik untuk menjadi agen pengusung ide tersebut atau yang sekedar terjebak ikut-ikutan mendukung ide pluralisme karena ketidaktahuan mereka– adalah memelintir makna ayat Al-Qur’an untuk membenarkan klaim mereka. 

Ya, sepertinya cara apapun akan mereka lakukan selama itu bisa digunakan untuk membodohi umat Islam.
Salah satu ayat yang sering mereka gunakan sebagai justifikasi ide mereka adalah surah Al-Baqarah ayat 256, yang berbunyi:

لا إكره فى الدين

Ayat tersebut bisa diterjemahkan dengan ‘tidak ada paksaan dalam agama’.

 Mereka kemudian menggunakan ayat tersebut untuk mencari pembenaran bahwa Islam tidak melarang seseorang memilih agama apapun, termasuk pindah-pindah agama bahkan murtad (keluar dari Islam). Menurut mereka, kebebasan beragama –dalam arti semua orang berhak beragama, pindah-pindah agama bahkan tidak beragama– merupakan hak setiap orang dan Islam membenarkan hal ini.

Benarkah tafsir para pengusung ide pluralisme tersebut? Jawabannya, tidak benar. Ayat tersebut sama sekali tidak membenarkan kebebasan beragama yang kebablasan. Ayat tersebut hanya melarang umat Islam ‘memaksa’ non-muslim untuk masuk Islam. Larangan tersebut pun hanya pada kondisi ‘memaksa’, jika dengan diskusi ilmiah tentu tidak dilarang.

Pembahasan tentang tafsir yang benar untuk surah Al-Baqarah ayat 256 ini sudah saya sajikan di tulisan saya yang berjudul “Tidak Ada Paksaan dalam Agama”. Silakan baca juga tulisan tersebut.
Semoga kita semakin ‘kritis’ dengan berbagai kerancuan pemikiran yang mereka sampaikan. Jangan sampai kita terjebak, bahkan membenarkan pemikiran mereka hanya karena ketidaktahuan kita. Jangan sampai kita ‘terkesima’ dan ‘terpana’ dengan gaya penyampaian mereka dan kutipan ayat yang mereka bawa, padahal isinya adalah racun yang mematikan. Billahit taufiq wal hidayah.








(Abu Furqan)

 

 

~* Tidak Ada Paksaan dalam Agama *~







 


Pada postingan kali ini saya akan mencoba menyampaikan tafsir surah al-Baqarah ayat 256. Berikut ayatnya:

لا إكره فى الدين ، قد تبين الرشد من الغي ، فمن يكفر بالطغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها ، والله سميع عليم

Frase laa ikraaha fid diin kadang digunakan sebagai dalih (bukan dalil) oleh pengusung pluralisme untuk membenarkan ide mereka. Kata mereka, Al-Qur’an sendiri menjamin kebebasan beragama bagi setiap individu, buktinya Al-Qur’an melarang untuk melakukan paksaan (ikraah) dalam memeluk dan memilih agama. Bahkan, lebih jauh, mereka juga menyatakan bahwa ayat ini juga merupakan salah satu dasar dibolehkannya seorang muslim meninggalkan agamanya alias murtad atau mengikuti ajaran yang menyimpang seperti Ahmadiyah.

Benarkah hal tersebut? Jawabannya, tidak. Sudah merupakan prinsip dasar bagi kalangan pengusung ide liberalisme dan pluralisme untuk menyimpangkan dan menyesatkan pemahaman umat dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan tafsir seenak perut mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk menghancurkan umat Islam dari dalam.

Lalu apa pemahaman yang benar terhadap ayat ini? Berikut saya akan sedikit jelaskan berdasarkan kitab-kitab tafsir yang mu’tabar.

Kata ad-diin dalam ayat ini, menurut Imam al-Qurthubi, bermakna al-mu’taqad (keyakinan/aqidah) dan al-millah (jalan hidup) (lihat al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an juz 4 hal 280). Ath-Thabari dalam kitab tafsir beliau, mengutip Abu Ja’far, menyatakan makna ad-diin adalah Islam (lihat Tafsir at-Thabari juz 5 hal 415). Dari penjelasan tersebut, frase laa ikraaha fid diin artinya tidak ada paksaan dalam memeluk aqidah Islam. Mengapa? Jawabannya ada di kelanjutan ayat, qad(t) tabayyanar rusydu minal ghayyi.
Ar-rusyd artinya al-haqq (kebenaran), sedangkan al-ghayy artinya ad-dhalal (kesesatan). Jadi frase qad(t) tabayyanar rusydu minal ghayyi berarti sesungguhnya telah jelas kebenaran dari kesesatan, telah jelas yang haq dari yang batil. Frase ini dengan sangat jelas menyatakan diinul Islam sebagai kebenaran dan diin ghairil Islam sebagai kesesatan, frase ini juga menyatakan bahwa yang benar itu telah jelas dan yang sesat itu juga telah jelas (silakan lihat tafsir ath-Thabari dan kitab tafsir lain tentang penjelasan hal ini). Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, ulama mujtahid abad ke-20 sekaligus muassis Hizbut Tahrir, dalam kitab beliau Nizham al-Islam bab Thariqul Iman telah menjelaskan dalil aqli dan naqli yang menunjukkan kebenaran diinul Islam. Artinya, untuk mengetahui dan mengikuti kebenaran Islam tidak perlu paksaan, karena Allah telah menunjukkan jalan kebenaran tersebut dengan jelas dan mampu kita indra dan pikirkan melalui akal kita, afala ta’qiluun?

Jadi frase ini dengan sangat jelas mencela orang-orang yang masih mengambil diin selain Islam, karena dengan hal tersebut mereka telah menutup diri dari kebenaran dan tak mau menggunakan akal mereka untuk mencari kebenaran.

Faman(y) yakfur bith-thaaghuuti wa yu’min(m) billahi faqadis tamsaka bil ‘urwatil wutsqaa lan(m) fishaama lahaa, wallahu samii’un ‘aliim. Frase ini adalah untuk orang-orang yang mengikuti diinul Islam, yaitu orang-orang yang mengingkari thaghut (apapun yang disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala) dan beriman kepada Allah ta’ala (hanya meyakini Allah sebagai ilah dan rabb). Mereka telah berpegang pada al-‘urwah al-wutsqa (pegangan yang paling kuat) yaitu al-Iman, al-Islam dan kalimat tauhid laailaahaillallah. Al-‘urwah al-wutsqa ini juga yang dinamakan dengan ash-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus) (silakan lihat tafsir ath-Thabari, al-Qurthubi dan Ibnu Katsir).. Frase al-‘urwah al-wutsqa dilanjutkan dengan lan(m) fishaama lahaa, yang tidak akan putus. Ini merupakan penguat yang menunjukkan bahwa diinul Islam ini merupakan pegangan yang paling kuat dan tidak akan pernah putus, artinya selama seseorang memegang Islam, dia pasti akan selamat.

Ayat ini ditutup dengan penyebutan sifat Allah subhanahu wa ta’ala yaitu samii’ (maha mendengar) dan ‘aliim (maha mengetahui). Imam al-Qurthubi menyatakan bahwa disebutkannya sifat ini untuk menunjukkan bahwa Allah maha mendengar ucapan seseorang yang menyatakan kufr terhadap thaghut dan beriman kepada Allah serta mengetahui keyakinan seseorang yang ada di dalam hati tentang kekafirannya terhadap thaghut dan keimanannya kepada Allah ta’ala.

Tentang ikraah (paksaan) dalam memeluk Islam, secara umum hal ini dilarang, namun ada dua pengecualian menurut Syaikh ‘Atha Abu ar-Rasytah dalam kitab tafsir beliau Taysir fi Ushul at-Tafsir, yaitu:

1. Ketundukan ahludz dzimmah (non muslim yang tinggal di negara Islam) kepada hukum-hukum Islam selain perkara keyakinan. Dikecualikan juga adalah peribadatan mereka di tempat-tempat ibadah mereka, minuman dan makanan mereka. Selain perkara-perkara tersebut (keyakinan, ibadah, minuman dan makanan), mereka diwajibkan dan dipaksa untuk tunduk dan mengikuti hukum Islam dalam kehidupan umum mereka. Dalil dalam hal ini adalah firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 29 sebagai berikut:

حتى يعطوا الجزية عن يد وهم صغرون

Artinya: “Sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (kepada hukum Islam)”. (TQS. At-Taubah [9]: 29)

2. Orang-orang musyrik Arab, mereka dipaksa untuk memeluk Islam, jika tidak mereka akan dibunuh. Dalilnya adalah:

ستدعون إلى قوم أولى بأس شديد تقتلونهم أو يسلمون

Artinya: “Kalian akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kalian akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam)”. (TQS. Al-Fath [48]: 16)

Kaum yang dimaksud dari ayat di atas adalah kalangan musyrik Arab.
Demikianlah penjelasan yang benar terhadap surah al-Baqarah ayat 256. Sama sekali keliru jika ada yang menggunakan ayat ini sebagai hujjah untuk membela ide pluralisme dan liberalisme, bahkan jelas sekali ayat ini kontradiktif dengan pemahaman orang-orang bodoh tersebut. Semoga kita mendapatkan taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala agar tetap berpegang pada al-‘urwah al-wutsqa sampai akhir hayat kita. Amiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.








( Abu Furqan )
*****

Selasa, 24 Juli 2012

~* Pure Faith is the Measure in Allah's Promise of Dominion *~


pembe güller

















The rule of true faith referred to in Holy Scriptures and to be established in the End Times will be the result of sincere faith and moral rectitude. Neither genealogy nor any material criterion can substitute for pure faith. Some Jews maintain that the society promised dominion in the Torah is the Jewish people regardless of their devotion and sincerity. However, this view is not accepted by devout Jews, but even criticized and condemned by them.

Clearly, whoever possesses the qualities of the sincerely believing society promised dominion in the Torah, Allah will make them the means whereby the faith in Allah and moral values prevail. To put it another way, those who will bring about the dominion of religious moral values are believers of sincere faith, who fear and respect Allah, who maintain the moral virtues He has commanded, who are obedient to Him, and who live by love and compassion. Dominion is promised to true believers, not to any particular community or descent.
It is a grave error for any to imagine that they have been promised dominion solely on the grounds that they were simply born Jewish or Christian. What matters is not his birth, but his devotion to Allah, to His Prophets and the moral values of the faith, and his obedience and submission. If anyone denies the existence of Allah or fails to appreciate His might properly; if he fails to abide completely by religious moral values; if he does not believe in the Prophets or does not comply with their Sunnah, then his race or line of descent is to of no advantage at all. If someone who does not believe in Allah and has not truly surrendered to Him, it is irrelevant whether that person is descended from the Prophets Abraham, Jacob or Moses (peace be upon them). In any case, such a person has rejected the Prophets from whose very line he is descended. Merely being descended from the Prophets does not confer holiness on a person in the absence of true faith. The ancestry of someone who rejects the Prophets Abraham, Isaac, Jacob and Moses (peace be upon them), who does not love and fear Allah, is of no importance in Allah's sight.

Allah has revealed in the Qur'an that fear [and respect] of Allah is the only measure that confers any value on someone in His sight:
The noblest among you in Allah's sight is the one who most fears [and respects] Allah. Allah is All-Knowing, All-Aware. (Surat al-Hujurat, 13)
Another verse reveals the finest outcome that awaits those who fear and respect Allah:
... So be steadfast. The best end result is for those who fear and respect Allah. (Surah Hud, 49)
Those who fear and respect Him are those who hope for such an outcome from Allah by striving on His path, who hope for no other reward than His good pleasure, who have dedicated their lives and belongings to Allah, who have a great fear of and passionate love for Him. They are the true heirs of Allah for the dominion of the moral values of the true faith.

In conclusion, the fundamental requirement in Allah's promise of dominion is true faith. The accounts of and references to dominion in the Torah are not limited to any one particular nation. Muslims–in other words, those who have surrendered to Allah–and anyone who truly believes without ascribing any equals to Him, becomes part of the community of believers. "The People of Israel" was the name for this community in the Torah. To put it another way, the "People of Israel" includes the sincere, devout descendants of Jacob, and the true Muslims (who have surrendered themselves to Allah) regardless of their descent.


nehir manzarası
 

''..On the day We gather them together – when it will seem if they had tarried no more than an hour of a single day – they will recognize one another. Those who denied the meeting with Allah will have lost. They were not guided.'' (Surah Yunus, 45)
 






The community chosen and promised dominion by Allah, as revealed in verse 55 of Surat an-Nur, will possess the following qualities:

1) Believing in Allah,
2) Doing right actions,
3) Ascribing no equals to Allah, and
4) Worshipping Allah alone. 

The dominion promised by Allah is directed towards such a community. Otherwise, it could hardly be expected that a people descended from the People of Israel, but lacking any devout belief, could rule the world. Moreover, it is out of question for ethnic groups to have lived in close proximity over the course of centuries without intermixing. Nor is it possible for the lines of the Prophets Isaac and Ishmael, sons of the Prophet Abraham (peace be upon them), to have survived in pure form. Obviously, what is being referred to is unity of belief, not genealogy.

In the Book of Genesis (28: 7-10), it is revealed that the son of the Prophet Isaac (pbuh) married the Prophet Ishmael's (pbuh) daughter. This event described in the Torah represents a clear example of how lines of descent became intermingled right from the outset. Furthermore, descendants of the Prophets Isaac and Ishmael (peace be upon them) who lived in areas very close to one another, have close family ties. Therefore, the community that will be given dominion is not any specific line, but a group that will adhere to the pure moral values of the Prophet Abraham (pbuh)–or to give it its contemporary name, Islam.
In addition, Allah has revealed in the Qur'an that all messengers represent one single family:

Allah chose Adam and Noah and the family of Abraham and the family of 'Imran over all other beings–descendants one of the other. Allah is All-Hearing, All-Knowing. (Surah Al 'Imran, 33-34)

In Surat al-An'am, Allah refers to messangers coming from each others' lines:

Those who believe and do not mix up their belief with any wrongdoing, they are the ones who are safe; it is they who are guided. This is the argument We gave to Abraham against his people. We raise in rank anyone We will. Your Lord is All-Wise, All-Knowing. We gave him Isaac and Jacob, each of whom We guided. And before him We had guided Noah. And among his descendants were David and Solomon, and Job, Joseph, Moses and Aaron. That is how We recompense the good-doers. And Zaccariah, John, Jesus and Elijah. All of them were among the righteous. And Ishmael, Eljada, Jonah and Lot. All of them We favored over all beings. And some of their forebears, descendants and brothers; We chose them and guided them to a straight path. (Surat al-An'am, 82-87)



çimen, süs havuzu



All the Prophets are related to one another. Any reference to the line of the Prophet Jacob, or the Prophet Solomon, or the Prophet David (peace be upon them) also encapsulates the line of the Prophet Abraham (pbuh), and dominion is promised to the Prophet Abraham (pbuh), of the line of the Prophets. The Prophet Muhammad (may Allah bless him and grant him peace) is also a member of this holy line. The hadiths also state that Hazrat Mahdi (pbuh) will come from that same line. Everyone who can trace his lineage back to this line is popularly known as a "sayyid." Hazrat Mahdi (pbuh) will be a sayyid.

In those hadiths of our Prophet (may Allah bless him and grant him peace), it is revealed that:
Abu Dawud reported a hadith from Abd Allah ibn Masud: The Prophet (may Allah bless him and grant him peace) said, "If there were only one day left for the world, that day would be lengthened until a man from among my descendants or from among the people of my household [Hazrat Mahdi (pbuh)], was sent."
Days and nights will not come to an end until a man from the People of my House [Hazrat Mahdi (pbuh)] will prevail. (Al-Uqayli, An-Najmu's-saqib)