Kamis, 15 November 2012

TEMPAT KEMBALI YANG HAKIKI …



TEMPAT KEMBALI YANG HAKIKI …



Secara fitrah, segala sesuatu selalu punya kecenderungan untuk kembali kepada fitrah asalnya. Saripati tanah pastilah punya keinginan untuk kembali kepada tanah pula. Siapapun tidak akan bisa menolak bahwa saripati tanah yang boleh jadi bentuknya berbeda-beda, misalnya, dalam bentuk tubuh manusia, tubuh hewan, dan tanaman, pada saat yang tepat pastilah akan kembali menjadi tanah. MATI.



Oleh sebab itu untuk kembali membuka kesadaran kita kepada yang tidak sama dengan tanah, yang bukan tanah, maka janganlah coba-coba untuk membawa-bawa tanah itu menghadap kepada yang bukan tanah. Jangan bawa mata untuk melihat yang bukan tanah. Jangan bawa telinga untuk mendengar yang bukan tanah. Jangan bawa otak untuk memikirkan yang bukan tanah. Jangan bawa dada untuk merasakan yang bukan tanah. Karena mata, telinga, otak dan dada itu nanti akan sirna dimakan ulat dan belatung setelah semuanya itu ditanam kembali di dalam tanah, setelah semua itu tidak berfungsi. MATI.



Tapi jangan pula mata, telinga, otak dan dada itu dimatikan seperti ajaran mematikan dan menutup “hawa songo” dalam praktek kebatinan tertentu. Hanya lewati saja kesemuanya itu seperti lewatnya angin dan cahaya di udara terbuka yang tidak ada tumbuhan, tidak ada bangunan, tidak ada gunung yang menghalangi. Tanpa hambatan, tanpa tekanan. Atau RILEKS dalam bahasa populernya. Seperti rileksnya mata, telinga, otot, otak dan dada seorang bayi. Nggak susah kok untuk rilkes ini. Sudah rileks….???.



Kalau sudah, maka hampir secara otomatis kita akan mempunyai kesadaran bahwa kita ternyata meliputi seluruh Nafs atau diri kita. Lalu lupakan sajalah seluruh atribut dan fenomena Nafs itu. Lalu yang tinggal adalah SAYA, Sang MIN-RUHI, SANG BASHIRAH, SANG AKU DIRI.



Nah…, mari kita lanjutkan tentang bagaimana proses Sang Aku Diri ini luruh ke dalam pelukan Sang Aku Hakiki, ALLAH:



·    Sekarang munculkan afirmasi atau niat, bahwa saya tidak tahu tentang Allah. Saya tidak tahu bagaimana cara sadar dan ingat kepada Allah (DZIKIRULLAH). Karena yang tahu tentang Allah adalah Allah sendiri. Lagi pula…, sudah sekian lamanya saya TERTUTUP oleh kecenderungan Nafs (Hawa un Nafs) untuk SADAR dang INGAT kepada ALLAH. Oleh sebab itu mulai saat ini, saat ini juga, tanamkanlah sebuah afirmasi atau niat yang kuat bahwa saya punya Tuhan yang Nama-Nya adalah ALLAH.



·    Kemudian munculkan sebuah rasa ingin yang sangat kuat (jahadu) agar diajarkan oleh Allah tentang Allah sendiri.



“Allahumma ‘ala dzikrika”

Ya Allah dzikirkan saya, ingatkan dan sadarkan saya.

Ajarkan saya untuk bisa ingat dan sadar kepada-Mu.

Saya tidak bawa apa-apa selain hanya PENGETAHUAN bahwa Engkau Maha Meliputi Segala Sesuatu dan Engkau tidak sama dengan segala apapun juga.



Kalau perlu ulangilah niat untuk ingin di tuntun oleh Allah ini dengan kerendahan hati yang amat sangat (tadarru’).



·    Saya lalu mengucapkan langsung (tanpa perantara dan wasilah apapun) kepada Wajah Sang Maha Meliputi ungkapan persaksian dan shalawat sebagai berikut:



Bimillahirrahmanirrahim,

Asyhadu anlaa ilaaha illallah,

Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad.



·    Lalu panggil-panggillah Nama Sang Maha Meliputi itu dengan teguh:



Ya Allah…, Ya Rahman…!.



Ulangilah memanggil-manggil Ya Allah, Ya Rahman ini beberapa kali dengan kerendahan hati yang amat sangat, sampai nantinya muncul tarikan rohani kearah yang Maha Tinggi. Biasanya munculnya tarikan rohani ini tidaklah terlalu lama setelah kita memanggil-manggil Allah. Paling dalam hitungan menitan. Kalau dalam waktu 3 menit berselang belum juga muncul tarikan rohani ini, maka jangan diteruskan. Percuma saja. Karena kalau sudah lebih dari 3 menit tapi nggak ada tarikan rohani juga, maka yang muncul kemudian adalah fikiran kita. Kita mulai mikirin tentang bagaimana tarikan rohani itu, bagaimana direspon Tuhan, dan sebagainya. Kalau sudah begini maka istirahatlah sebentar, dan kemudian mulailah lagi dari awal.



·    Kalau tarikan rohani itu muncul, maka jangan takut, jangan dilawan, dan jangan dipikirkan. Karena kalau takut, atau dilawan, atau dipikirkan, maka seketika itu juga tarikan itu akan lenyap. Sebenarnya tarikan rohani itu hanyalah sebuah pergerakan kesadaran kita saja dari kesadaran ketubuhan (Nafs) menuju kesadaran yang mengatasi Nafs menuju ketidakberhinggaan. Akan tetapi, dalam pergerakan kesadaran demi kesadaran itu kita seperti DITUNTUN. Jadi bukan karena usaha kita sendiri lagi. Tapi dituntun, ditarik. Nah…, ikuti sajalah tuntunan itu. Biasanya respon akibat dari adanya tuntunan itu adalah, dada kita berguncang, atau tepatnya diguncangkan dari dalam, sehingga kita bisa dibuat histeris, menangis dan bahkan tersungkur saking dahsyatnya tarikan rohani itu.



·    Kemudian pada saatnya, respon dengan rasa ditariknya rohani kita itu akan berhenti dan berganti dengan munculnya rasa tenang, damai, luas yang dalam bahasa Al Qur’an disebut dengan TALINU (lihat Az Zumar 23).



·    Dan bacalah, IQRA suasana tenang, damai, dan luas itu, karena disana sungguh sangat tidak terhingga ilmu pengetahuan maupun solusi dari berbagai persoalan. Di wilayah itu semuanya digeletakkan begitu saja oleh Allah untuk menunggu manusia-manusia yang mau otaknya dialiri fikiran Tuhan, yang mau dadanya dialiri oleh kehendak Tuhan. Ya…, manusia yang mau menjadikan dirinya sebagai wakil Tuhan, yang mau meneruskan tongkat estafet perjuangan Rasulullah. “Sedangkan untuk bekalnya…, semuanya dari-Ku”, kata Allah menjamin. Kita hanya tinggal memunguti bekal itu sesuai dengan kebutuhan.



·    Lalu nikmatilah hasil dari IQRA (membaca) suasana per suasana itu dalam bentuk RASA MENGERTI (NGEH).



Catatan: 

Oleh sebab itu selalulah perkuat rasa mau belajar kepada Allah, berguru kepada Allah. Lalu tanamkan juga niat yang kuat bahwa saya akan IKUT MAU-NYA ALLAH. Sikap ini merupakan sikap dasar yang harus dimiliki oleh seseorang yang tidak tahu dan ingin menjadi tahu. Karena memang hanya inilah modal kita yang ada pada kita. Dengan sikap ini kita dituntun untuk SADAR PENUH kepada Tuhan. Kalau sudah sadar penuh kepada Allah, maka kita dengan senang hati akan ikut mau-Nya Allah. Dan kalau kita sudah ikut mau-Nya Allah maka kita akan dituntun dari satu keadaan ke keadaan lain, dari satu suasana ke suasana lain, dari satu pengetahuan ke pengetahuan lain. Bukankah tuntunan Tuhan ini yang selalu kita pohonkan dalam setiap shalat kita…?. Kita selalu mengeluhkan kepada Allah: “Iyyaka na’budu wa iyya ka NASTA’IN…?”. Tuntun saya ya Allah…!.



·    Nah…, kalau suasana ajar mengajar antara seorang hamba dengan Sang Maha Guru, ALLAH, ini sudah bisa kita dapatkan, maka tinggal kita nikmati saja pemahaman-pemahaman yang lainnya, misalnya:

Ø       Tuhan itu siapa..?.

Tuhan adalah yang Dzat Yang Maha Dahsyat, Sang Pencipta alam semesta dengan tidak sia-sia, bumi, matahari, bintang-bintang, tumbuhan, termasuk diri kita. Seluruh ciptaan-Nya bermanfaat,  tidak ada yang sia-sia. Malaikat, bahkan iblis sekalipun akan bermanfaat bagi manusia. Deerrr…!, maka masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan Tuhan itu.

Ø       Tuhan Maha Meliputi segala sesuatu.

Kita, tubuh kita juga diliputi Nya. Amati liputan Tuhan itu terhadap jantung, darah, paru-paru, otak, semuanya. Nafas kita juga diliputi oleh Tuhan. Amati kerja tuhan pada tubuh kita. Ternyata karsa, keinginan, kesibukan Tuhanlah yang bekerja atas semua yang ada di dalam tubuh kita itu. Seperti juga karsa Tuhan terhadap alam semesta. Deerrr…!. Masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan karsa Tuhan itu. Lalu histeris, terpana, terkapar, adalah sebuah keniscayaan saja.



Ø       Sadari akan alam RASA melihat, alam RASA mendengar, alam RASA tahu, masuklah ke wilayah KESADARAN RASA-RASA itu tadi.

Nanti kita akan dibawa sadar, dituntun sadar bahwa ternyata yang melihat itu bukanlah mata saya, tapi ada rasa melihat yang mengalir melewati mata itu. Kita akan dibawa untuk sadar bahwa yang mendengar itu ternyata bukanlah telinga saya, tapi ada rasa mendengar yang mengalir melewati telinga itu. Kita akan disadarkan pula bahwa yang tahu itu bukanlah otak saya, tapi ada rasa tahu yang mengalir melewati otak saya. Begitu juga dengan rasa tenang, damai, dan bahagia. Ternyata semuanya itu hanya sekedar rasa yang dialirkan melewati dada saya. Amatilah semua alam rasa-rasa tadi itu. Karena disitu juga sangat kaya, melimpah ruah, dengan pengajaran dan tahu. Akan tetapi bagi yang mau masuk ke wilayah kearifan, maka semua pengajaran dan tahu tadi itu hanya akan dilihat dengan selayang pandang saja. Karena semua itu adalah hijab yang akan menutupi kesadaran kita terhadap Sang Maha Mengalirkan rasa itu kepada kita.



Ø       Masuklah ke dalam kesadaran atas rasa melihat, rasa mendengar, dan rasa tahu itu.

Nanti kita akan dibawa kepada kesadaran baru bahwa semuanya itu ternyata adalah RASA MILIK ALAM. Oleh sebab itu jangan diaku. Ya…, semua ternyata adalah rasa melihat milik alam, rasa mendengar milik alam, rasa tahu milik alam. Yang ada adalah rasa alam semesta…!. Tegasnya…, yang ada adalah alam…!.



Ø       Jangan mau berhenti di kesadaran alam semesta ini. Masuklah ke dalam kesadaran yang lebih dalam. Masuklah dengan niat, atau afirmasi bahwa:

ü       Alam  ini diadakan oleh Allah.

ü       Ooo…, kalau begitu yang ada hanyalah alam dan Allah.

ü       Alam adalah qodrat dari Allah.

ü       Sehingga yang ada adalah qodrat Allah dan Allah.

ü       Qodrat Allah kembalikan ke Allah

ü       Sehingga yang tinggal, Yang ADA hanyalah ALLAH.



Ø       Lalu tegaskanlah:

laa ilaha illallah



Ø       Lalu bertasbihlah:

subhanallah

alhamdulillah

laa ilaha illallah

Allahu Akbar.

Laa haula wala quwwata illa billah.



Ø       Lalu akan muncul pekikan HU…, HU…, HU…!

Ø       Lalu akan muncul rasa patuh dan sujud sebagai seorang hamba kepada Allah.

Ø       Lalu………….!,

Ø       Lalu………….!.



Nah…, demikianlah sekilas saya mencoba menggambarkan secara verbal sebuah proses yang kalau dialami langsung akan jauh lebih dahsyat dari hanya sekedar bahasa tertulis seperti ini. Nah silahkanlah masuk sendiri-sendiri ke dalam suasana dan kesaksian seperti di atas. Maka anda akan menangguk manfaat yang tak terkirakan.

MEMAKAI BAJU KESADARAN…



Begitulah…, kalau kita mau dituntun oleh Allah suasana per suasana, maka tinggal kemudian suasana itu kita pakai sebagai “baju” kita sehari-hari. Misalnya, saat diri kita ditimpa oleh berbagai masalah yang rumit, kita langsung saja buru-buru membawa masalah itu kepada Allah. Dan dengan sangat mengherankan kita akan ditarok di atas masalah itu sehingga kita tinggal memunguti solusi yang cocok untuk menyelesaikan masalah itu. Walau pun nanti hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, itu masalah lain lagi. Nggak usah dicampur adukkan antara hak kita dengan hak Allah. Percaya sajalah bahwa Allah tahu persis apa-apa yang terbaik buat kita.



Apapun juga…,  omongkanlah kepada Allah, berbisiklah kepada Allah. Karena Allah memang adalah satu-satunya ALAMAT yang sangat jelas untuk tempat kita menyampaikan segala sesuatu. Kalau alamat ini kabur, nggak jelas, maka itu namanya kita sedang kafir terhadap Allah. Oleh sebab itu sadarkanlah diri kita atas keberadaan alamat itu. Ini nih…!. INI….!. Hu…, hu… hu…!. Nggak usah dicari jauh-jauh ke langit yang ke tujuh atau ke alam-alam malakut, alam jabarut, alam lahut, dan alam-alam lainnya. Deerr…!. Lalu duduklah di sini memunguti jawaban Allah (Makhraja) atas persoalan kita. Kalau sudah begitu, maka kita setidaknya bisa merasakan cipratan rahmat sebagaimana dirasakan oleh para penyambung tangan Rasulullah. Yaitu para sahabat Rasulullah dan wali-wali Tuhan. Karena sahabat dan penerus Rasulullah itu artinya adalah orang yang sadar penuh terhadap Tuhan. Sadar penuh. DZIKRULLAH. Sedangkan si Deka hanyalah wali dari Karima Yuridawati, anak saya.



Sekian. Hanya Allah yang Maha Tahu.



Deka

Cilegon 18 April 2005,

Jalan Kabel no. 16, jam 06:00


Directions:
Sumber : Milist Dzikrullah


~ ....